Cerita Seks Dewasa | Nakalnya Ibu Mertuaku







Namaku Adi ( singkatan ) dan belum setahun ini aku kawin dengan Ina, setelah dia menyelesaikan SMU nya. Ina adalah anak tunggal dan Ibunya ( mertuaku dan umurnya sekitar 40 an) telah cerai kira2 5 tahun yang lalu, tapi sampai saat ini aku nggak tahu mengapa mereka sampai bercerai. Karena rumah mertuaku cukup besar di daerah Bekasi dan apalagi Ina hanyalah anak satu2nya, maka setelah kawin, aku dan Ina diminta tetap tinggal di rumah ini, karena Ibu nggak mau ditinggal sendiri. Padahal, aku sudah punya rumah sendiri, walaupun masih memcicil di KPR. Untuk menyingkat cerita, baiklah kumulai cerita ini yang terjadi kira2 dua bulan yang lalu. Seperti biasanya, aku pulang dari kantor dan sampai di rumah kira2 jam 18.00 sore. Ina dan ibunya selalu ngobrol di tetangga sebelah rumah, biasa perempuan..ngerumpi kali. Sesampainya di rumah, aku biasanya langsung mandi. Suatu sore, saat aku lagi mandi dan kebetulan aku sedang menggosok kontolku dengan sabun untuk membersihkan kotoran2 yang ada dan kontolku sedang berdiri tegak karena gosokanku tadi.eeeehhhhhh, tiba2 pintu kamar mandinya terbuka lebar dan Ibu mertuaku masuk terburu-buru sambil kedua tangannya mengangkat roknya keatas. Melihat aku ada didalam kamar mandi dan kebetulan aku menghadap ke arah pintu... aaaahhhhkkkk..Adiiiii..teriak mertuaku tertahan sambil menutupkan kedua tangannya ke arah mulut nya, tapi matanya yang terbelalak kaget itu tetap tertuju ke arah kontolku. Ad.Adiiii..., lanjutnya setelah kekagetannya sedikit hilang, lho.. kok...kamar mandi nya nggak di kunci... Dan matanya masih tetap tetegun ke arah kontolku. Lho...Ibu sih...masuknya nggak pakai ketok2 dulu...Ad.. adaaa.apa sih bu kok. keburu-buru.???? Kalau sudah kebelet mau pi.pis.., ya. pipis aja deh.. bu, kataku, tapi...Ina.dimana.bu .?? lanjutku, karena aku takut tiba2 Ina muncul juga, bisa2 tengsin. Ohh..Ina lagi ke warung dengan si Wati, katanya sih mau beli rujak.., kata ibu. Si..silahkan.deh ..bu.kencingnya.kalau sudah kebelet...Tapi..kalau Ina tahu bu.bisa berabe., lanjutku tanpa kuubah posisi berdiriku. Nnggg..nggaaakk. apa2..nih..Di., kata ibu sambil kedua tangan nya mengangkat roknya dan. iy.. ya.deh.Diii..ibu sudah kebelet niiihh..lanjut ibu sambil menurunkan Cdnya. Terlihat sekelebat., sebelum ibu jongkok, memeknya yang ditumbuhi bulu2 hitam yang lebat dan membuat kontolku semakin tegang aja. Ad.adiii...tolong..dong ambilkan air di gayung..., kata ibu tiba2 sambil tangan kanannya mengarah ke arahku.dan...entah disengaja apa tidak, tangan ibu telah menyentuh kontolku. Ma.aaaff.yaaa.Diii.. keseng.gol., kata ibu setelah merasa tangannya menyenggol kontolku. Sambil keluar dari kamar mandi, ibu masih sempat berucap pelan. Aaa.. diii., si Ina beruntung.ya... Untung gimana bu...tanyaku nggak jelas, sebelum ibu menutup kamar mandi...Tapi nggak ada jawaban dari ibu dan kulanjutkan mandiku sampai selesai. Seminggu kemudian, tepatnya hari Jum'at pagi sewaktu aku sarapan bertiga dengan Ina dan Ibu, Ina bilang..Maaass.nanti siang aku mau pergi ke rumahnya si Sarah di Kebayoran Lama.mau ngebantuin dia...besok kan dia mau nikahan...waktu kita nikah dulu, dia kan membantu kita disini..sampai nginep lagi. Jadi kamu mau nginep juga.? Tanyaku sambil mataku tertuju ke arah ibu. Iya..dong Massss..nggak enak kan ? Jadi Mas dan Ibu, datang saja kesana besok sore sambil sekalian menghadiri resepsinya. Bolehh.kan...Mas...?? OK.deh..kalau gitu, kataku dan aku langsung berangkat ke kantor setelah pamitan dengan Ina dan Ibu. Sore harinya ketika aku sampai didepan rumah, terlihat rumah Ibu tertutup dan waktu kucoba membukanya, eh..nggak taunya terkunci. Aku jadi agak kesel juga ke Ina, katanya mau pergi sendiri ke rumah si Sarah, tapi rumah kok di kunci. Lalu kucoba mengetok pintu, siapa tau Ibu entah sedang mandi atau ketiduran. Setelah beberapa kali pintu kuketok, terdengar suara ibu dari belakang...siapa ya...?? Adiiiii.bu... , kataku dan sewaktu pintu dibuka terlihat pening kiri dan kanan ibu telah di tempeli koyok. Lho...bu...kenapa...? tanyaku...sakit..ya..bu, lanjutku. Enggak...kok.diiii...ibu cuman agak pusing sedikit aja.dan.sekarang sudah agak mendingan kok..setelah ditempelin koyok. Ohhh..., kataku sambil terus masuk rumah. Adiiii...kata ibu sambil berjalan menuju kamarnya...nanti kamu makan sendirian aja..ya., ibu kepingin tiduran dulu...masih berat..rasanya kepala ibu ini. Nggak.apa..deh.bu., kataku sambil menuju kamarku yang letaknya nggak terlalu jauh dari kamar ibu. Setelah mandi, kukenakan pakaian kesukaanku kalau lagi dirumah yaitu kaos oblong dan sarung serta kulanjutkan makan malam sendirian. Lagi enak2nya nonton warta berita TVRI, kudengar suara ibu dari kamarnya memanggil namaku..Adiiii. adiiiii..sini dulu.diii.. Selama ini belum pernah masuk ke kamar mertuaku, jadi kujawab panggilan ibu dari depan pintu kamarnya yang terbuka tetapi tertutup korden.ada..ap..apaaaa..bu...?? Kesini. dong. diiii...masuklah...dan kubuka korden kamar ibu dan kulihat ibu lagi tiduran miring menghadap ke arahku dan memakai pakaian tidur yang sangat tipis. Tapi baru saja aku akan masuk kamar, tiba2 telepon berdering, sebentar..ya.bu.ada telepon masuk, kataku pada ibu. Hallo..., kataku sambil mengangkat gagang telepon, Maasss.., oh.rupanya si Ina dalam hatiku, lagi ngapain.maasss ? apa sudah makan...?? kata Ina lagi. Biasa.., lagi nonton TV jawabku. Masss.., kelihatannya pesta kawinnya Sarah.akan besar2an, aku lagi sibuk nih..dengan merangkai bunga, katanya dan kelihatannya aku nggak bisa pulang, jadi besok seperti rencana aja deh Mas...lanjut Ina. Iya.deh In...nggak apa2, jawabku. Eh...maasss., mana ibu..??? Aku pingin ngomong dong..., lanjut Ina. Innn..Ibu dari tadi tiduran dikamarnya.. katanya lagi pusing...aku lihat tadi.pelipisnya di tempelin koyok, kataku. Massss.., tolong deh kepala ibu dipijitin...pasti deh.pusingnya ibu akan hilang., biasanya..ibu suka aku pijitin, kalau lagi pusing..dan..sebentar aja, katanya pusingnya hilang..tolong..ya...masss, dan sampaikan salamku buat ibu dan OK mas..sampai besok, cerocos Ina. Sambil aku berjalan kembali kearah kamar ibu, kudengar suara ibu yang tidak terlalu keras, Adiii...telepon dari siapa...?? Oh...dari Ina.bu... Sini...dong.. Diii. tolongin.ibu.. Sambil membuka korden kamar ibu dan terlihat posisi tiduran ibu masih seperti semula yaitu menghadap ke arahku, si.siniiii.diiii.tolongin..ibu..?? kata ibu sambil melambaikan tangannya dan kulihat ketek ibu yang agak ditumbuhi bulu2 hitam lebat, sehingga membuat kontolku berdiri. Sini...diii..tolongin.ibu, kata ibu sambil menepuk tempat tidur tepat dimukanya dan menggeser badannya sedikit kearah belakang. Waktu badannya bergeser, kulihat teteknya bergerak-gerak dan setelah kuperhatikan rupanya ibu nggak memakai Bh, sehingga kontolku semakin tegang saja, untungnya nggak kelihatan karena aku pakai sarung. Tol.tolongiinn.apa.bu..?? Kataku setelah aku berdiri tepat dimuka ibu dan Ibu...masih pusing...ya..?? lanjutkan. Eeeemmm.diii..duduklah disini..kata ibu sambil menepuk kasur dimukanya dan menggeser badannya lagi sedikit kearah belakang dan sepertinya memberi tempat aku buat duduk, tolong..ke.pala ibu dipijitin..sebentar.ya..diii, kepala..ibu...kok tambah.berat aja. Lalu aku duduk tepat dimuka ibu dan kupegang kepala ibu dengan kedua tanganku sambil kupijat-pijat. Kulihat mata ibu memejam ketika kepalanya kupijiti, mungkin lagi menikmati enaknya pijitanku. Dari jarak yang begitu dekat, terlihat tetek ibu yang nggak terlalu besar samar-samar dibalik daster yang tipis itu dan ini membuat kontolku semakin tegang saja dan mulai kelihatan menonjol dari balik sarungku. Diii.., kata ibu sambil matanya masih tetap terpejam, In.Ina..bilang.apa..?? Anu.bu...pestanya si Sarah.kelihatannya akan besar2an, kataku. Terus...,lanjut ibu, Iya..bu..saya bilang ibu lagi tiduran karena pusing dan sa...saya diminta untuk memijiti kepala ibu..., jawabku. Lalu kami berdua diam dan tetap kulanjutkan pijitan dikepala ibu. Karena nggak tahan diam terus dan yang terdengar hanya suara napas ibu, maka aku mencoba untuk menanyakan kata2 ibu kemarin sewaktu di kamar mandi. Buuu...,kataku pelan2. Ya...diii..ada.apa.?? sahut ibu dan matanya melek sedikit dan memandangku tapi lalu merem lagi. Itu...lo..buuu.., kemarin kan ibu bil.bilang..kalau Ina beruntung..apa sih itu..bu.??? Ibu nggak langsung menjawab, tapi tiba2 ibu sambil membuka matanya sedikit melihat arah sarungku dan dengan cepat tangannya bergerak menggenggam dan memijat pelan kontolku yang terlihat menonjol dari luar sarung sambil mengucap..In..ini..lho..diii... Memang..nya.kenapa..buuuuu, tanyaku pingin tahu lebih jauh jawaban ibu. Ahhh. kamu.ini.., jawab ibu sambil memijit lagi kontolku, be...saaarrr...diiiii, lanjut ibu sambil melepas pijitannya dan menggeser tangannya dari sarungku. Setelah itu, nggak ada lagi pembicaraan, tapi napas ibu semakin tidak teratur dan makin keras dan kontolku semakin tegang saja setelah di pijit ibu. Perasaanku makin nggak karu2an dan kulihat ibu masih saja tetap memejamkan matanya, hanya nafasnya semakin kencang. Lalu sambil tetap kupijiti kepalanya, pelan2 kudekati bibir ibu dan....kucium bibir ibu lembut. Kulihat ibu agak kaget tapi matanya masih tertutup dan berguman pelan..Adiiiiii..aaahhhhh.. kam.. kamu..nakaaal.ya. Karena nggak ada reaksi negatif dari ibu, maka keberanian dan nafsuku semakin bertambah, pelan2 kuangkat sarungku dan kupegang batang kontolku lalu kubawa maju menuju mulut ibu yang agak terbuka sedikit itu. Adiiii...seru ibu lirih ketika kontolku kudorong masuk ke mulut ibu dan hhhhmmm...hhhhmmm. ,suara ibu yang nggak bisa meneruskan kata2nya karena kontolku sudah ½ nya masuk ke mulutnya. Buuu..bbuuu.enaaaaaakkk.bu...bu, gumanku ketika lidah ibu terasa sedang dipermainkan di kepala kontoku dan terus di sedot2, sedang ibu hanya ber suara.. hhhmmmm...hmmmm.hhmmm.. Pelan2 aku majukan badanku kearah muka ibu, sehingga sumua kontolku sekarang masuk semua kedalam mulut ibu, sambil kulepaskan kedua tanganku dari kepala ibu dan kupindahkan ke tetek ibu yang cukup lembut serta kuremas-remas. Setelah beberapa saat kontolku di sedot2 ibu, rangsangan ditubuhku makin panas, lalu kuangkat daster ibu dari bawah dan..rupanya ..ibu sudah nggak pake Cd, sehingga terlihat badannya yang putih bersih ibu dan sekeliling memeknya ditumbuhi bulu2 hitam halus yang lebat. Kurebahkan badanku ke arah perut ibu, lalu kujilati dan kucucup perut dan sekitarnya, sedangkan ibu semakin keras menyedot-nyedot kontolku sambil maju-mundurkan mulutnya. Setelah beberapa saat jilatanku hanya disekitar perut ibu, sekarang secara perlahan-lahan kuselusuri jilatanku kearah memek ibu. Sesampainya mulutku di sekitar bibir memek ibu, kujepit bibirnya yang sudah basah oleh cairan ibu yang asin2 enak, sambil kupermainkan ludahku dan badan ibu menggelinjang sambil berguman. Ad..adiii..lalu suara ibu menghilang dan hanya terdengar bunyi .. hhmmmm. hhmm ..hhmmm.karena kembali kontolku ketekan masuk kemulut ibu. Kemudian lidahku menjalar terus ke arah kelentit ibu dan ku main2kan dengan lidahku dan sesekali kusedot agak kuat, sehingga tubuh ibu menggelinjang keras sambil menaik-turunkan pantatnya dan kedua tangannya berusaha menekan kepalaku kedalam memeknya dan pantatku tetap ku naik-turunkan sehingga kontolku keluar masuk mulut ibu dan yang kudengar hanya bunyi ..hhhmmmm.. hhhmmm.hhhmm..dari mulut ibu. Setelah cukup lama seluruh bagian memek ibu yang sangat basah itu ku sedot dan jilat itu, tiba2...ibu melepaskan kontolku dari mulutnya dan...Addiiiii.., teriak ibu agak keras..amm...puunnn.diiiii, ibu nggak..tah.tahaaaannnnn..ib.bu..kel..uaaaaaaaarrrr..arccchhhhh, sambil kedua tangannya menekan kepalaku kuat2 ke memeknya dan pantatnya naik-turun dengan cepat, lalu ..terdiam...dan hanya nafas ibu yang terdengar terengah-engah. Setelah nafas ibu terdengar agak teratur..Adiiiii.. sin.siniiii... sayaaaaang, kata ibu sambil berusaha menarik badanku kearahnya dan kulepaskan mulutku dari memek ibu yang penuh dengan cairannya serta kuputar badanku dan kucium mulut ibu dengan bibirku yang masih basah dengan cairan ibu dan badannya kupeluk erat. Adiiiiii..., terdengar bisikan halus ibu ditelingaku.pusss.ing..ibu. sudah hilang..say...aanng, sud..aaahh lamaaaa..ibu merindukan..ini.diiiii, dan aku nggak memberikan jawaban apapun hanya kukecup bibir ibu dengan lembut serta disambutnya ciumanku itu dengan mesra. Kontolku tetap masih sangat tegang karena sampai saat ini yang kupentingkan ibu supaya bisa orgasme lebih dulu dan sekarang posisiku sudah berada diatas badan ibu yang sedang terlentang, sambil kami tetap berpelukan dan berciuman. Sambil kukecup pipi ibu, kubisiki telinga ibu..buuuu.., boo..leeehh. sayaaa..?? belum sampai kata2 yang aku ucapkan itu selesai, terasa ibu telah berusaha merenggangkan ke dua kakinya pelan2 dan kulihat ibu tidak berusaha menjawab, tapi terus menutup matanya. Dengan tanpa melihat, kucari lubang memek ibu dengan kontolku dan ibu menggeser pantatnya sedikit saat kontolku sudah menempel memeknya, sepertinya ibu sedang berusaha menempatkan lobang memeknya agar kontolku mudah masuk. Setelah kurasa pas, kutekan kontolku pelan2 ke memek ibu, tapi sepertinya nggak ada tanda2 kepala kontolku mulai masuk, walau memek ibu sudah basah sekali. Yang kuperhatikan diwajah ibu yang lagi merem itu, sepertinya ibu menyeringai agak menahan rasa sewaktu kontolku kutekan ke memeknya.. peel.. laaan.. pelaaan.diiii.. saaa...kiitt, kudengar bisik ibu dan lanjutnya ..iibu.. sudah lama..nggak.. pernah begini, sejak bapak kawin lagi.diii. Karena kasihan mendengar suara ibu itu, kuangkat pelan2 kontolku tapi tangan ibu yang dari tadi ada di pantatku berusaha menahannya. Jaa...ngaaann..dicabuuuutt..diii.. kedengar bisik ibu lagi. Aku nggak menjawab apa2, tapi kutusukkan lagi kontolku pelan2 ke memek ibu dan..ttrrretttt..terasa kepala kontolku seperti menguak sesuatu yang tadinya tertutup dan kuhentikan tusukan kontolku karena kudengar lagi ibu seperti merintih.Adiiiiii..sambil kedua tangannya menahan pantatku dan wajahnya menyeringai menahan sakit. Beberapa detik kemudian, kurasakan kedua tangan ibu menekan pantatku pelan2, aku langsung menekan kontolku lagi pelan2 dan.. ttrrreeett.bleessss... terasa kontolku masuk setengahnya ke memek ibu...aadiiiiiii....kata ibu seperti berbisik, suu..daaahh... maaasukk..sa.. yaang..., lanjutnya sambil melepas nafas panjang tapi tangan ibu menahan laju tekanan pantatku. Aku diamkan sebentar pergerakan kontolku sambil menunggu reaksi ibu lebih lanjut, tapi...dalam keadaan diam seperti ini, aku merasa kontolku sedang terhisap kuat di dalam memek ibu dan secara nggak sadar terucap dari mulutku.. buuu..ibuuu.ennaaakk..sekali..buu..terr.usss..buu. Saking enaknya.aku sudah nggak perhatikan tangan atau wajah ibu lagi, lalu kegerakkan pantatku naik turun pelan2 dan makin lama makin cepat, dan ibu mengimbanginya dengan mengerakkan pantatnya seperti berputar-putar. Addiii...diii..tee..ruuus. diiii..enaaakk..aduuuhhh...enakkk..ddiii.., kudengar kata2 ibu terbata-bata dan terucap dari mulutku secara tanpa sadar...bbuuuuu..buuuu..iy. ya...saa. yyaaa. jugaaa..eenaakkkk, dan kubungkam bibir ibu dengan mulutku sambil lidahku kuputar didalam mulut ibu, serta kedua tanganku mencengkeram kuat wajah ibu. Sedang kan kedua tangan ibu masih tetap di posisi pantatku dan menekan pantatku apabila pantatku lagi naik. Goyangan dan gerakan aku dan ibu semakin cepat dan kudengar bunyi.crreeettt...creeettt..creeetttt.secara teratur sesuai dengan gerakan naik-turunnya pantatku serta bunyi suara ibu ..hhmmm...aaaahhhh.. aaahhh.yang nggak keluar karena bibirnya tertutup bibirku. Nggak lama kemudian gerakan pantat ibu yang berputar itu semakin cepat dan kedua tangannya mencengkeram kuat2 di pantatku dan...tiba2 ibu melepas ciumanku serta berkata tersendat sendat agak keras..Adiii..diiii...ddii..ibuuuu..ibuu..haam. piirr..ddiiii.aa...yyoooo..diiii.., moment ini nggak kusia siakan, karena aku sudah nggak kuat menahan desakan pejuku yang akan keluar.buuu.tuung.. guuu.saa..maaa.samaaa..sek..aaarangggg...arrcchhhhhh.., sambil kutekan kontolku kuat2 kedalam memek ibu dan kurasakan cengkeraman kedua tangan ibu di pantatku makin keras dan agak sakit seakan ada kukunya yang menusuk pantatku. Kuperhatikan ibu dengan nafas yang masih ter engah2 terdiam lemas seperti tanpa tenaga dan kedua tangannya walau terkulai tapi masih dalam posisi memelukku, sedangkan posisiku yang masih diatas tubuh ibu dengan kontolku masih nancep semuanya didalam memek ibu. Karena Ibu diam saja tapi nafasnya mulai agar teratur, aku berpikir ibu mau istirahat atau lansung tidur, lalu kuangkat pantatku pelan2 untuk mencabut kontolku yang masih ada di dalam memek ibu, eeehh...nggak tahunya ibu dengan kedua tangannya yang mash tetap di punggungku dan memiringkan badannya sehingga aku tergeletak disampingnya lalu dengan matanya masih terpejam dia berguman pelan...Adiii...bii.aarkan..diii.biarkan dida..laaamm...ibuuuu. rasanya..enak.ada yang mengganjel didalam...sambil mencium bibirku mesra sekali dan...kami terus ketiduran sampai pagi.

Cerita Seks Dewasa | Hasrat Yang Terpendam








Sudah sejak berumur 7 atau 8 tahun aku mempunyai keingintahuan dan hasrat yang kuat akan seks. Secara sembunyi-sembunyi aku sering membaca majalah dewasa milik orang tuaku. Biasanya hal itu kulakukan saat sebelum berangkat sekolah dan orang tuaku tidak di rumah. Saat membaca majalah tersebut aku juga ber onani untuk memuaskan hasratku.

Pada saat usiaku 10 tahun, hasratku akan pemuasan seks semakin besar, maklum saat itu adalah masa puber. Frekuensiku melakukan onani juga semakin sering, dalam sehari bisa sampai 4 kali. Dan setiap hari minimal 1 kali pasti aku lakukan.

Anak Nakal Yang Ngentot Mama Dan Adik Kandung Setelah Nonton Bokep
Pada suatu sore ketika aku duduk di kelas 6 SD, saat itu tidak ada seorang pun di rumah. Papa sedang bertugas keluar kota, sedangkan Mama dan adikku sedang mengikuti suatu kegiatan sejak pagi. Aku gunakan kesempatan tersebut untuk menonton blue film milik orang tuaku. Sejak pagi sudah 3 film aku putar dan sudah 4 kali aku melakukan onani. Namun hasratku masih juga begitu besar.
Ada adegan yang sangat aku sukai dan aku sering berkhayal bahwa aku menjadi pemeran pria dalam film itu. Adegan itu adalah saat seorang pria sedang berbaring sementara wanita pertama duduk di atas penis sang pria sambil menggoyangkan pinggulnya dan wanita kedua duduk tepat di atas mukanya sementara sang pria dengan lahapnya menjilati vagina wanita kedua tersebut.

Aku segera menurunkan celanaku bersiap melakukan onani sambil menyaksikan adegan favoritku. Di tengah-tengah kegiatanku dan film sedang hot-hotnya, tiba-tiba terdengar suara pintu pagar dibuka. Saat itu menunjukkan pukul 20.00, ternyata Mama dan adikku sudah pulang. Segera aku kenakan celanaku kembali dan mengeluarkan video dari playernya kemudian meletakkannya kembali di tempatnya. Lalu baru aku membukakan pintu untuk mereka.

“Eh Wan, tolong bantu masukkan barang-barang dong”, Mama memintaku membantunya membawa barang-barang.“Iya Ma. Shin, di sana ngapain aja? Koq sepertinya capek banget sih?”, aku menyapa adikku Shinta.“Wah, banyak. Pagi setelah aerobik terus jalan lintas alam. Sampai di atas udah siang. Terus sorenya baru turun. Pokoknya capek deh.”, Shinta menjelaskannya dengan bersemangat.Setelah itu mereka mandi dan makan malam. Sementara aku duduk di ruang keluarga sambil menonton acara TV. Setelah mereka selesai makan malam, adikku langsung menuju ke kamarnya di atas. Mama ikut bergabung denganku menonton TV.“Wan, ada acara bagus apa aja?”, Mama bertanya padaku.“Cuma ini yang mendingan, yang lainnya jelek”, aku memberi tahu bahwa hanya acara yang sedang kutonton yang cukup bagus.

Saat itu acaranya adalah film action. Setelah itu ada pembicaraan kecil antara aku dan Mama. Karena lelah, Mama menonton sambil tiduran di atas karpet. Tidak lama sesudah itu Mama rupanya terlelap. Aku tetap menonton. Pada suatu saat, dalam film tersebut ada jalan cerita dimana teman wanita sang jagoan tertangkap dan diperkosa oleh boss penjahat. Spontan saja penisku mengembang. Aku tetap meneruskan menonton.

Ketika film sedang seru-serunya, tanpa sengaja aku menatap Mama yang sedang tertidur dengan posisi telentang dan kaki yang terbentang. Baju tidurnya (daster) tersingkap, sehingga sedikit celana dalamnya terlihat. Tubuhku langsung bergetar karena nafsuku yang tiba-tiba meledak. Tidak pernah terpikir olehku melakukan persetubuhan dengan Mamaku sendiri. Tapi pemandangan ini sungguh menggiurkan. Pada usia 29 tahun, Mama masih terlihat sangat menarik. Dengan kulit kuning, tinggi badan 161 cm, berat badan 60 kg, buah dada 36B ditambah bentuk pinggulnya yang aduhai, ternyata selama ini aku tidak menyadari bahwa sebenarnya Mama sangat menggairahkan.

Selama ini aku benar-benar tidak pernah punya pikiran aneh terhadap Mama. Sekarang sepertinya baru aku tersadar. Nafsu mendorongku untuk menjamah Mama, namun sejenak aku ragu. Bagaimana kalau sampai Mama terbangun. Namun dorongan nafsu memaksaku. Akhirnya aku memberanikan diri setelah sebelumnya aku mengecilkan volume TV agar tidak membangunkan Mama. Aku bergerak mendekati Mama dan mengambil posisi dari arah kaki kanannya. Untuk memastikan agar Mama tidak sampai terbangun, kugerak-gerakkan tangan Mama dan ternyata memang tidak ada reaksi.

Rupanya karena lelah seharian, ia jadi tertidur dengan sangat lelap. Dasternya yang tersingkap, kucoba singkap lebih tinggi lagi sampai perut dan tidak ada kesulitan. Tapi itu belum cukup, aku singkap dasternya lebih tinggi lagi dengan terlebih dahulu aku pindahkan posisi kedua tangannya ke atas. Sekarang kedua buah dadanya dapat terlihat dengan jelas, karena ternyata Mama tidak mengenakan bra. Langsung aku sentuh buah dada kanannya dengan telapak tangan terbuka dan dengan perlahan aku remas. Setelah puas meremasnya, aku hisap bagian putingnya lalu seluruh bagian buah dadanya.

Tiba-tiba Mama mendesah. Aku kaget dan merasa takut kalau-kalau sampai Mama terbangun. Tetapi setelah kutunggu beberapa saat tidak ada reaksi lain darinya. Untuk memastikannya lagi aku meremas buah dada Mama lebih keras dan tetap tidak ada reaksi. Walau masih penasaran dengan bagian dadanya, namun aku takut jika tidak punya cukup waktu. Sekarang sasaran aku arahkan ke vaginanya. Mama mengenakan CD tipis berwarna kuning sehingga masih terlihat bulu kemaluannya.
Aku raba dan aku ciumi vagina Mama, tapi aku tidak puas karena masih terhalang CD-nya. Jadi kuputuskan untuk menurunkan CD-nya sampai seluruh vaginanya terlihat. Namun hal itu tidak dapat kulakukan karena posisi kakinya yang terbentang menyulitkanku untuk menurunkannya. Jadi terpaksa aku rapatkan kakinya sehingga aku bisa menurunkan CD-nya sampai lutut. Tapi akibatnya aku jadi tidak bisa mengeksplorasi vagina Mama dengan leluasa karena kakinya kini merapat. Apakah aku harus melepas semuanya? Tentu akan lebih leluasa, tapi jika Mama sampai terbangun akan berbahaya karena aku tidak akan bisa dengan cepat memakaikannya kembali.

Berhubung nafsuku sudah memburu, maka aku putuskan untuk melepaskannya semua. Lalu aku rentangkan kakinya. Sekarang vagina Mama dapat terlihat dengan jelas. Tidak tahan lagi, langsung aku cium dan jilati vaginanya. Lebih jauh lagi, dengan kedua tangan kubuka bibir-bibir vaginanya dan aku jilati bagian dalamnya. Aku benar-benar semakin bernafsu, ingin rasanya aku telan vagina Mama. Tidak lama setelah aku jilati, vaginanya menjadi basah. Setelah puas mencium dan menjilati bagian vaginanya, penisku sudah tidak tahan untuk dimasukkan ke dalam vagina Mama. Aku kemudian berdiri untuk melepas celanaku. Lalu aku duduk lagi di antara kedua kaki Mama dan aku bentangkan kakinya lebih lebar.

Dengan mengambil posisi duduk dan kedua kakiku dibentangkan untuk menahan kedua kaki Mama, aku arahkan penisku ke lubang vaginanya. Tangan kananku membantu membuka lubang vagina Mama sementara aku dorong penisku perlahan. Aku rasakan penisku memasuki daerah yang basah, hangat dan menjepit. Tubuhku gemetar hebat karena nafsu yang mendesak. Setelah beberapa saat akhirnya seluruh penisku sudah berhasil masuk ke dalam vagina Mama dengan tidak terlalu sulit, mungkin karena Mama sudah melahirkan dua orang anak.

Mulailah kugoyangkan pinggulku maju mundur secara perlahan. Kurasakan kenikmatan dan sensasi yang luar biasa. Aku memutuskan untuk memuaskan nafsuku, apa pun yang terjadi. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Dengan semakin bernafsu, aku peluk tubuh Mama dan mengulum dadanya, sementara penisku terus bergerak cepat menggosok vagina Mama. Aku sudah tidak peduli lagi apakah Mama akan terbangun atau tidak, biar pun terbangun aku akan terus menggoyangnya sampai aku puas.

Sungguh nikmat. Bahkan lebih nikmat daripada fantasiku selama ini. Setelah aku berjuang keras selama 6 menit, akhirnya aku sudah tidak tahan lagi hingga aku benamkan penisku dalam-dalam ke vagina Mama. Aku rasakan spermaku mengalir bersamaan dengan sensasi yang luar biasa. Seakan melayang sampai-sampai terasa sakit kepala. Aku biarkan penisku beberapa saat di dalam tubuh Mamaku.

Setelah cukup rileks, aku cabut penisku. Aku puas. Aku tidak menyesal. Aku kenakan kembali celanaku. Sebelum aku kenakan kembali CD-Mama, aku puaskan diri dengan meremas-remas vagina Mama. Setelah itu aku rapikan kembali daster Mama. Aku matikan TV dan naik menuju kamarku di atas. Aku langsung rebahan di atas kasurku. Walau aku merasa lelah tapi aku tidak bisa tidur membayangkan pengalaman ternikmat yang baru saja aku rasakan. Pengalaman seorang anak SD yang baru saja melakukan hubungan seks dengan Mamanya sendiri.

Membayangkan hal tersebut saja membuat nafsuku bangkit kembali. Aku berpikir untuk kembali melakukannya dengan Mama. Aku berjalan keluar kamar menuju ruang keluarga. Namun di depan kamar Shinta adikku, entah apa yang mengubah pikiranku. Aku berpikir, kalau Mama saja tidur sedemikian lelapnya maka tentu Shinta juga demikian. Apalagi selama ini Shinta kalau sudah tidur sulit sekali untuk dibangunkan.

Perlahan aku buka kamarnya dan aku lihat Shinta tertidur dengan menggunakan selimut. Aku masuk ke kamarnya dan aku tutup lagi pintunya. Seperti yang sudah aku lakukan dengan Mama, aku juga sudah bertekad akan menyetubuhi Shinta adikku sendiri. Walaupun ia bangun aku juga tidak akan peduli.

Lalu aku singkap selimutnya dan aku lepaskan dasternya serta tidak CD-nya. Sekarang Shinta sudah benar-benar bugil. Karena Shinta belum memiliki buah dada, sasaranku langsung ke vaginanya. Vaginanya sungguh mulus karena belum ditumbuhi rambut. Aku rentangkan kakinya lalu aku cium dan jilati vaginanya. Sekali-kali aku gigit perlahan. Lalu aku buka lebar-lebar bibir vaginanya dengan jariku dan kujilati bagian dalamnya.Setelah puas menciumi vaginanya, aku bersiap untuk menghunjamkan penisku ke dalam vagina Shinta yang masih mulus. Aku rentangkan kakinya dan aku tempatkan melingkar di pinggangku. Aku ingin mengambil posisi yang memungkinkanku dapat menyetubuhi Shinta dengan leluasa.

Lalu kuarahkan penisku ke lubang vaginanya sementara kedua tanganku membantu membuka bibir vaginanya. Aku dorong perlahan namun ternyata tidak semudah aku melakukannya dengan Mama. Vagina Shinta begitu sempit, karena ia masih kecil (saat itu ia baru berusia 9 tahun) dan tentu saja masih perawan. Tapi itu bukan halangan bagiku. Aku terus mendorong penisku dan bagian kepala penisku akhirnya berhasil masuk. Namun untuk lebih jauh sangat sulit.

Nafsuku sudah memuncak tapi masih belum bisa masuk juga hingga membuatku kesal. Karena aku sudah bertekad, maka aku paksakan untuk mendorongnya hingga aku berhasil. Namun tiba-tiba saja Shinta merintih. Aku diam sejenak dan ternyata Shinta tidak bereaksi lebih jauh. Walaupun aku tidak peduli apakah Shinta akan tahu atau tidak, tetap saja akan lebih baik kalau Shinta tidak mengetahuinya.

Kemudian aku mulai menggoyang pinggulku, tetapi gerakanku tidak bisa selancar saat melakukannya dengan Mama, karena vagina Mama basah dan tidak terlalu sempit, sedangkan milik Shinta kering dan sempit. Aku terus menggesekan penisku di dalam tubuh Shinta semakin lama semakin cepat sambil memeluk tubuhnya. Ada perbedaan kenikmatan tersendiri antara vagina Mama dan Shinta. Karena vagina Shinta lebih sempit maka hanya dalam waktu 3 menit aku sudah mencapai orgasme.
Kubiarkan spermaku mengalir di dalam vagina Shinta. Aku tidak perlu khawatir karena aku tahu Shinta belum bisa hamil. Aku tekan penisku dalam-dalam dan aku peluk Shinta dengan erat. Setelah puas aku kenakan lagi pakaian Shinta baru aku kenakan pakaianku sendiri. Aku berjingkat kembali ke kamarku dan tertidur sampai keesokan paginya.

Pada pagi harinya aku agak khawatir jika ketahuan. Tapi sampai aku berangkat sekolah tidak ada yang mencurigakan dari sikap Mama maupun Shinta. Sejak saat itu aku selalu terbayang kenikmatan yang aku alami pada malam itu. Aku ingin mengulanginya. Dengan Mama kemungkinannya bisa dilakukan jika Papa tidak di rumah. Jadi akan lebih besar kesempatannya jika melakukannya dengan Shinta saja.

Walaupun pada saat melakukannya, aku tidak peduli jika diketahui tetapi tetap akan lebih aman jika mereka tidak mengetahuinya. Maka hampir setiap malam, aku selalu bergerilya ke kamar Shinta. Namun aku hanya berhasil sampai tahap melucuti pakaiannya. Setiap kali penisku mulai masuk, Shinta selalu terbangun.

Empat bulan sejak pengalaman pertama, aku belum pernah lagi melakukan sex. Pada bulan kelima, aku masuk SMP dan pada pelajaran biologi aku mengenal suatu bahan kimia praktikum yang digunakan untuk membius. Saat itu aku langsung berpikir bahwa aku bisa menggunakannya bersetubuh dengan Shinta lagi.

Setelah pelajaran biologi, aku mengambil sebotol obat bius untuk dibawa ke rumah. Pada malam hari setelah semuanya tertidur, aku masuk ke kamar Shinta. Sebuah sapu tangan yang telah dilumuri obat bius aku tempatkan di hidung Shinta. Setelah beberapa saat, aku angkat sapu tangan tersebut dan mulai melucuti pakaian Shinta. Dan setelah aku melucuti seluruh pakaianku, aku naik ke ranjang Shinta dan duduk di antara kedua kakinya.

Aku mengambil posisi favoritku dengan menempatkan kedua kakinya melingkari pinggangku. Aku masukkan penisku ke vaginanya dengan perlahan sampai keseluruhan penisku masuk. Goyangan pinggulku mulai menggoyang tubuh Shinta. Aku memeluk tubuhnya dengan erat dan penisku bergerak keluar masuk dengan cepat. Karena aku yakin Shinta tidak akan terbangun maka aku bisa mengubah posisi sesukaku. Seperti sebelumnya, saat pada puncaknya aku biarkan spermaku tertumpah di dalam vaginanya.

Sejak saat itu hampir setiap hari aku menyetubuhi adikku, Shinta. Sesekali jika Papa sedang di luar kota, aku juga menyetubuhi Mama. Alangkah beruntungnya aku. Dengan ilmu pengetahuan, suatu hambatan ternyata dapat diselesaikan dengan mudah.



" TAMAT "


Cerita Dewasa Hot || Memumaskankan tanteku Yang Bohay






Sesaat lamanya aku hanya berdiri di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah berarsitektur gaya Jawa kuno. Hampir separuh bagian rumah di depanku itu adalah terbuat dari kayu jati tua yang super awet. Di depan terdapat sebuah pendopo kecil dengan lampu gantung kristalnya yang antik. Lantai keramik dan halaman yang luas dengan pohon-pohon perindangnya yang tumbuh subur memayungi seantero lingkungannya.

Aku masih ingat, di samping rumah berlantai dua itu terdapat kolam ikan Nila yang dicampur dengan ikan Tombro, Greskap, dan Mujair. Sementara ikan Geramah dipisah, begitu juga ikan Lelenya. Dibelakang sana masih dapat kucium adanya peternakan ayam kampung dan itik. Tante Yustina memang seorang arsitek kondang dan kenamaan.

Enam tahun aku tinggal di sini selama sekolah SMU sampai D3-ku, sebelum akhirnya aku lulus wisuda pada sebuah sekolah pelayaran yang mengantarku keliling dunia. Kini hampir tujuh tahun aku tidak menginjakkan kakiku di sini. Sama sekali tidak banyak perubahan pada rumah Tante Yus. Aku bayangkan pula si Vivi yang dulu masih umur lima tahun saat kutinggalkan, pasti kini sudah besar, kelas enam SD.

Kulirik jarum jam tanganku, menunjukkan pukul 23:35 tepat. Masih sesaat tadi kudengar deru lembut taksi yang mengantarku ke desa Kebun Agung, sleman yang masih asri suasana pedesaannya ini. Suara jangkrik mengiringi langkah kakiku menuju ke pintu samping. Sejenak aku mencari-cari dimana dulu Tante Yus meletakkan anak kuncinya. Tanganku segera meraba-raba ventilasi udara di atas pintu samping tersebut. Dapat. Aku segera membuka pintu dan menyelinap masuk ke dalam.
Sejenak aku melepas sepatu ket dan kaos kakinya. Hmm, baunya harum juga. Hanya remang-remang ruangan samping yang ada. Sepi. Aku terus saja melangkah ke lantai dua, yang merupakan letak kamar-kamar tidur keluarga. Aku dalam hati terus-menerus mengagumi figur Tante Yus. Walau hidup menjada, sebagai single parents, toh dia mampu mengurusi rumah besar karyanya sendiri ini. Lama sekali kupandangi foto Tante Yus dan Vivi yang di belakangnya aku berdiri dengan lugunya. Aku hanya tersenyum.

Kuperhatikan celah di bawah pintu kamar Vivi sudah gelap. Aku terus melangkah ke kamar sebelahnya. Kamar tidur Tante Yus yang jelas sekali lampunya masih menyala terang. Rupanya pintunya tidak terkunci. Kubuka perlahan dan hati-hati. Aku hanya melongo heran. Kamar ini kosong melompong. Aku hanya mendesah panjang. Mungkin Tante Yus ada di ruang kerjanya yang ada di sebelah kamarnya ini.

Sebentar aku menaruh tas ransel parasit dan melepas jaket kulitku. Berikutnya kaos oblong Jogja serta celana jeans biruku. Kuperhatikan tubuhku yang hitam ini kian berkulit gelap dan hitam saja. Tetapi untungnya, di tempat kerjaku pada sebuah kapal pesiar itu terdapat sarana olah raga yang komplit, sehingga aku kian tumbuh kekar dan sehat.

Tidak perduli dengan kulitku yang legam hitam dengan rambut-rambut bulu yang tumbuh lebat di sekujur kedua lengan tangan dan kakiku serta dadaku yang membidang sampai ke bawahnya, mengelilingi pusar dan terus ke bawah tentunya. Air. Ya aku hanya ingin merasakan siraman air shower dari kamar mandi Tante Yus yang bisa hangat dan dingin itu.
Aku hendak melepas cawat hitamku saat kudengar sapaan yang sangat kukenal itu dari belakangku, “Andrew..? Kaukah itu..?”

Tante hot suka ngentot
Aku segera memutar tubuhku. Aku sedikit terkejut melihat penampilan Tante Yus yang agak berbeda. Dia berdiri termangu hanya mengenakan kemeja lengan panjang dan longgar warna putih tipis tersebut dengan dua kancing baju bagian atasnya yang terlepas. Sehingga aku dapat melihat belahan buah dadanya yang kuakui memang memiliki ukuran sangat besar sekali dan sangat kencang, serta kenyal. Aku yakin, Tante Yus tidak memakai BH, jelas dari bayangan dua bulatan hitam yang samar-samar terlihat di ujung kedua buah dadanya itu. Rambutnya masih lebat dipotong sebatang bahunya.

Kulit kuning langsat dan bersih sekali dengan warna cat kukunya yang merah muda.
“Ngg.., selamat malam Tante Yus… maaf, keponakanmu ini datang dan untuk berlibur di sini tanpa ngebel dulu. Maaf pula, kalau tujuh tahun lamanya ini tidak pernah datang kemari. Hanya lewat surat, telpon, kartu pos, e-mail.., sekali lagi, saya minta maaf Tante. Saya sangat merindukan Tante..!” ucapku sambil kubiarkan Tante Yus mendekatiku dengan wajah haru dan senangnya.
“Ouh Andrew… ouh..!” bisik Tante Yus sambil menubrukku dan memelukku erat-erat sambil membenamkan wajahnya pada dadaku yang membidang kasar oleh rambut.
Aku sejenak hanya membalas pelukannya dengan kencang pula, sehingga dapat kurasakan desakan puting-puting dua buah dadanya Tante Yus.

“Kau pikir hanya kamu ya, yang kangen berat sama Tante, hmm..? Tantemu ini melebihi kangennya kamu padaku. Ngerti nggak..? Gila kamu Andrew..!” imbuhnya sambil memandangi wajahku sangat dekat sekali dengan kedua tangannya yang tetap melingkarkan pada leherku, sambil kemudian memperhatikan kondisi tubuhku yang hanya bercawat ini.

Tante Yustina tersenyum mesra sekali. Aku hanya menghapus air matanya. Ah Tante Yus…
“Ya, untuk itulah aku minta maaf pada Tante…”
“Tentu saja, kumaafkan..” sahutnya sambil menghela nafasnya tanpa berkedip tetap memandangiku, “Kamu tambah gagah dan ganteng Andrew. Pasti di kapal, banyak crew wanita yang bule itu jatuh cinta padamu. Siapa pacarmu, hmm..?”
“Belum punya Tan. Aku masih nabung untuk membina rumah tangga dengan seorang, entah siapa nanti. Untuk itu, aku mau minta Tante bikinkan aku desain rumah…”
“Bayarannya..?” tanya Tante Yus cepat sambil menyambar mulutku dengan bibir tipis Tante Yus yang merah.

Aku terkejut, tetapi dalam hati senang juga. Bahkan tidak kutolak Tante Yus untuk memelukku terus menerus seperti ini. Tapi sialnya, batang kemaluanku mulai merinding geli untuk bangkit berdiri. Padahal di tempat itu, perut Tante Yus menekanku. Tentu dia dapat merasakan perubahan kejadiannya.
“Aku… ngg…”
“Ahh, kamu Andrew. Tante sangat kangen padamu, hmm… ouh Andrew… hmm..!” sahut Tante Yus sambil menerkam mulutku dengan bibirnya.

Aku sejenak terkejut dengan serbuan ganas mulut Tante Yus yang kian binal melumat-lumat mulutku, mendasak-desaknya ke dalam dengan buas. Sementara jemari kedua tangannya menggerayangi seluruh bagian kulit tubuhku, terutama pada bagian punggung, dada, dan selangkanganku. Tidak karuan lagi, aku jadi terangsang. Kini aku berani membalas ciuman buas Tante Yus. Nampaknya Tante Yus tidak mau mengalah, dia bahkan tambah liar lagi.

Kini mulut Tante Yus merayap turun ke bawah, menyusuri leherku dan dadaku. Beberapa cupangan yang meninggalkan warna merah menghiasi pada leher dan dadaku. Kini dengan liar Tante Yus menarik cawatku ke bawah setelah jongkok persis di depan selangkanganku yang sedikit terbuka itu. Tentu saja, batang kemaluanku yang sebenarnya telah meregang berdiri tegak itu langsung memukul wajahnya yang cantik jelita.

“Ouh, gila benar. Tititmu sangat besar dan kekar, An. Ouh… hmmm..!” seru bergairah Tante Yus sambil memasukkan batang kejantananku ke dalam mulutnya, dan mulailah dia mengulum-ngulum, yang seringkali dibarengi dengan mennyedot kuat dan ganas.

Sementara tangan kanannya mengocok-ngocok batang kejantananku, sedang jemari tangan kirinya meremas-remas buah kemaluanku. Aku hanya mengerang-ngerang merasakan sensasi yang nikmat tiada taranya. Bagaimana tidak, batang kemaluanku secara diam-diam di tempat kerjaku sana, kulatih sedemikian rupa, sehingga menjadi tumbuh besar dan panjang. Terakhir kuukur, batang kejantanan ini memiliki panjang 17 sentimeter dengan garis lingkarnya yang hampir 5 senti. Rambut kemaluan sengaja kurapikan.

Tante Yus terus menerus masih aktif mengocok-ngocok batang kemaluanku. Remasan pada buah kemaluanku membuatku merintih-rintih kesakitan, tetapi nikmat sekali. Bahkan dengan gilanya Tante Yus kadangkala memukul-mukulkan batang kemaluanku ini ke seluruh permukaan wajahnya. Aku sendiri langsung tidak mampu menahan lebih lama puncak gairahku. Dengan memegangi kepala Tante Yus, aku menikam-nikamkan batang kejantananku pada mulut Tante Yus. Tidak karuan lagi, Tante Yus jadi tersendak-sendak ingin muntah atau batuk. Air matanya malah telah menetes, karena batang kejantananku mampu mengocok sampai ke tenggorokannya.

Pada satu kesempatan, aku berhasil mencopot kemejanya. Aku sangat terkejut saat melihat ukuran buah dadanya. Luar biasa besarnya. Keringat benar-benar telah membasahi kedua tubuh kami yang sudah tidak berpakaian lagi ini. Dengan ganas, kedua tangan Tante Yus kini mengocok-ngocok batang kemaluanku dengan genggamannya yang sangat erat sekali. Tetapi karena sudah ada lumuran air ludah Tante Yus, kini jadi licin dan mempercepat proses ejakulasiku.

“Crooot… cret.. croot… creeet..!” menyemprot air maniku pada mulut Tante Yus.
Saat spremaku muncrat, Tante Yus dengan lahap memasukkan batang kemaluanku kembali ke dalam mulutnya sambil mengurut-ngurutnya, sehingga sisa-sisa air maniku keluar semua dan ditelan habis oleh Tante Yus.
“Ouhh… ouh.. auh Tante… ouh..!” gumamku merasakan gairahku yang indah ini dikerjai oleh Tante Yus.
“Hmmm… Andrew… ouh, banyak sekali air maninya. Hmmm.., lezaat sekali. Lezat. Ouh… hmmm..!” bisik Tante Yus menjilati seluruh bagian batang kemaluanku dan sisa-sisa air maninya.
Sejenak aku hanya mengolah nafasku, sementara Tante Yus masih mengocok-ngocok dan menjilatinya.
“Ayo, Andrew… kemarilah Sayang.., kemarilah Baby..!” pintanya sambil berbaring telentang dan membuka kedua belah pahanya lebar-lebar.

Aku tanpa membuang waktu lagi, terus menyerudukkan mulutku pada celah vagina Tante Yus yang merekah ingin kuterkam itu. Benar-benat lezat. Vagina Tante Yus mulai kulumat-lumat tanpa karuan lagi, sedangkan lidahku menjilat-jilat deras seluruh bagiang liang vaginanya yang dalam. Berulang kali aku temukan kelentitnya lewat lidahku yang kasar. Rambut kemaluan Tante Yus memang lebat dan rindang.

Cupangan merah pun kucap pada seluruh bagian daging vagina Tante Yus yang menggairahkan ini. Tante Yus hanya menggerinjal-gerinjal kegelian dan sangat senang sekali nampaknya. Kulirik tadi, Tante Yus terus-menerus melakukan remasan pada buah dadanya sendiri sambil sesekali memelintir puting-putingnya. Berulang kali mulutnya mendesah-desah dan menjerit kecil saat mulutku menciumi mulut vaginanya dan menerik-narik daging kelentitnya.

“Ouh Andrew… lakukan sesukamu.. ouh.., lakukan, please..!” pintanya mengerang-erang deras.
Selang sepuluh menit kemuadian, aku kini merayap lembut menuju perutnya, dan terus merapat di seluruh bagian buah dadanya. Dengan ganas aku menyedot-nyedot puting payudaranya. Tetapi air susunya sama sekali tidak keluar, hanya puting-puting itu yang kini mengeras dan memanjang membengkak total. Di buah dadanya ini pula aku melukiskan cupanganku banyak sekali. Berulang kali jemariku memilin-milin gemas puting-puting susu Tante Yus secara bergantian, kiri kanan. Aku kini tidak tahan lagi untuk menyetubuhi Tanteku. Dengan bergegas, aku membimbing masuk batang kemaluanku pada liang vaginanya.
“Ooouhkk.. yeaaah… ayoo.. ayooo… genjot Andrew..!” teriak Tante Yus saat merasakan batang kejantananku mulai menikam-nikam liar mulut vaginanya.

Sambil menopang tubuhku yang berpegangan pada buah dadanya, aku semakin meningkatkan irama keluar masuk batang kemaluanku pada vagina Tante Yus. Wanita itu hanya berpegangan pada kedua tanganku yang sambil meremas-remas kedua buah dadanya.

“Blesep… sleeep… blesep..!” suara senggama yang sangat indah mengiringi dengan alunan lembut.
Selang dua puluh menit puncak klimaks itu kucapai dengan sempurna, “Creeet… croot… creeet..!”
“Ouuuhhhkk.. aooouhkk… aaahhk..,” seru Tante Yus menggelepar-gelepar lunglai.
“Tante… ouhhh..!” gumamku merasakan keletihanku yang sangat terasa di seluruh bagian tubuhku.
Dengan batang kemaluan yang masih tetap menancap erat pada vagiana Tante Yus, kami jatuh tertidur. Tante Yus berada di atasku.

Karena kelelahanku yang sangat menguasai seluruh jaringan tubuhku, aku benar-benar mampu tertidur dengan pulas dan tenang. Entah sudah berapa lama aku tertidur pulas, yang jelas saat kubangun udara dingin segera menyergapku. Sial. Aku sadar, ini di desa dekat Merapi, tentu saja dingin. Tidak berapa lama jam dinding berdentang lima sampai enam kali. Jam enam pagi..! Dengan agak malas aku beranjak berdiri, tetapi tidak kulihat Tante Yus ada di kamar ini. Sepi dan kosong. Dimana dia..? Aku terus mencoba ingin tahu. Dalam keadaan bugil ini, aku melangkah mendekati meja lampu. Secarik kertas kutemukan dengan tulisan dari tangan Tante Yustina.
Andrew sayang, Tante kudu buru-buru ke Jakarta pagi ini. Udah dijemput. Ada pameran di sana. Tolong jaga rumah dan Vivi. Ttd, Yustina.

Aku menghela nafas dalam-dalam. Gila, setelah menikmati diriku, dia minggat. Tetapi tidak apa-apa, aku dapat beristirahat total di sini, ditemani Vivi. Eh, tapi dimana dia..? Aku segera mengambil selembar handuk putih kecil yang segera kulilitkan pada tubuh bawahku. Tanpa membuang waktu lagi aku segera menyusuri rumah, dari ruang ke ruang dari kamar ke kamar. Tetapi sosok bocah SD itu tidak kelihatan sama sekali. Aku hampir putus asa, tetapi mendadak aku mendengar suara gemericik air pancuran dari kamar mandi ruang tamu di depan sana. Vivi. Ya itu pasti dia. Aku segera memburu.

Kubuka pintu kamar tamu yang luas dan asri ini. Benar. Kulihat pintu kamar mandinya tidak ditutup, ada bayangan orang di situ yang sedang mandi sambil bernyanyi melagukan Westlife. Edan, anak SD nyanyinya begitu. Aku hanya tersenyum saja. Perlahan aku mendekati gawang pintu. Aku seketika hanya menelan ludahku sendiri. Vivi berdiri membelakangiku masih asyik bergoyang-goyang sambil menggosok seluruh tubuhnya yang telanjang bulat itu dengan sabun. Rambut panjangnya tumbuh lurus dan hitam sebatas pinggang. Berkulit kuning langsat dan nampaknya halus sekali. Kusadari dia telah tumbuh lebih dewasa.

Air shower masih menyiraminya dengan hangat. Pantatnya sungguh indah bergerak-gerak penuh gairah. Hanya aku belum lihat buah dadanya. Tanpa kuduga, Vivi membalikkan badannya. Aku yang melamun, seketika terkejut bukan main, takut dan khawatir membuatnya kaget lalu marah besar. Ternyata tidak.

“Mas..? Mas Andrew..?” bertanya Vivi tidak percaya dengan wajah senang bercampur kaget.
Aku hanya menghela nafas lega. Dapat kuperhatikan kini, buah dadanya Vivi telah tumbuh cukup besar. Puting-putingnya hitam memerah kelam dan tampak menonjol indah. Kira-kira buah dadanya ya, sekitar seperti tutup gelas itu. Seperti belum tumbuh, tetapi kok terlihat sudah memiliki daging menonjolnya. Sedangkan rambut kemaluannya sama sekali belum tumbuh. Masih bersih licin.

“Hai vivi, apa kabarnya..?” tanyaku mendekat.
Vivi hanya tersenyum, “Masih ingat ketika kita renang bersama di rumahku dulu..? Kita berdua kan..? Hmm..?” sambungku meraih bahunya.
Air terus menyirami tubuhnya, dan kini juga tubuhku. Vivi mengangguk ingat.
“Ya. Ngg.., bagaimana kalau kita mandi bareng lagi Mas. Vivi kangen… mas andrew.. ouh..!” ujarnya memeluk pinggangku.

Aku mengangkut tubuhnya yang setinggi dadaku ini dengan erat.
“Tentu saja, yuk..!”
Aku menurunkan Vivi.
“Kapan Mas datangnya..?”
“Tadi malam. Vivi lagi tidur ya..?”
“Hm.. Mh..!”

Aku melepas handukku yang kini basah. Saat kulepas handukku, Vivi tampak kaget melihat rambut kemaluanku yang tumbuh rapih. Segera saja tangannya menjamah buah kemaluan dan bantang kejantananku.
“Ouh.., Mas sudah punya rambut lebat ya. Vivi belum Mas..,” ujarnya sambil memperhatikan vaginanya yang kecil.
Tentu saja aku jadi geli, batang kemaluanku diraba-raba dan ditimang-timang jemari tangan mungil Vivi yang nakal ini.
“Itu karena Vivi masih kecil. Nanti pasti juga memiliki rambut kemaluan. Hmm..?” ucapku sambil membelai wajahnya yang manis sekali.
Vivi hanya tersipu. Sialnya, aku kini jadi kian geli saat Vivi menarik-narik batang kejantananku dengan candanya.
“Ihhh.., kenyal sekali… ouh.., seperti belalai ya Mas..!”
Aku jadi terangsang. Gila.
“Belalai ini bisa akan jadi tumbuh besar dan panjang lho. Vivi mau lihat..?”
“Iya Mas.., gimana tuh..?”
“Vivi mesti mengulum, menghisap-hisap dan menyedotnya dengan kuat sekali batang zakar ini. Gimana..? Enak kok..!” kataku merayu dengan hati yang berdebar-debar kencang.
Vivi sejenak berpikir, lalu tanpa menoleh ke arahku lagi, dia memasukkan ujung batang kejantananku ke dalam mulutnya. Wow..! Gadis kecil ini langsung melakukan perintahku, lebih-lebih aku mengarahkan juga untuk mengocok-ngocok batang kemaluanku ini, Vivi menurut saja, dia malah kegirangan senang sekali. Dianggapnya batang ku adalah barang mainan baginya.
“Iya Mas. Tambah besar sekali dan panjang..!” serunya kembali melumat-lumatkan batang kejantananku dan mengocok keras batangnya.

Sekarang Vivi kuajari lagi untuk meremas buah kemaluanku. Aku membayangkan semua itu bahwa Tante Yus yang melakukan. Indah sekali sensasinya. Tetapi nyatanya aku tengah dipompa nafsu seksku dari bocah cilik ini. Edan, sepupuku lagi. Tetapi apa boleh buat. Aku lagi kebelet sekali kini. Yang ada hanyalah Vivi yang lugu dan bodoh tetapi mengasyikan sekali. Batang kejantananku kini benar-benar telah tumbuh sempurna keras dan panjangnya. Vivi kian senang. Aku kian tidak tahan.
“Teruskan Vi, teruskan… ya.., ya… lebih keras dan kenceng… lakukanlah Sayang..!” perintahku sambil mengerang-erang.
Setelah hampir lima belas menit kemudian, air maniku muncrat tepat di dalam mulut Vivi yang tengah menghisap batang kemaluanku.

“Creeet… crooot.. creet.. cret..!”
“Hup.. mhhhp..!” teriak kaget Vivi mau melepaskan batang kemaluanku.
Tetapi secepat itu pula dia kutahan untuk tetap memasukkan batang kemaluanku di dalam mulutnya.
“Telan semua spermanya Vi. Itu namanya sperma. Enak sekali kok, bergizi tinggi. Telan semuanya, ya.. yaaa… begitu… terus bersihkan sisa-sisanya dari batangnya Mas..!” perintahku yang dituruti dengan sedikit enggan.
Tetapi lama kelamaan Vivi tampak keasyikan mencari-cari sisa air maniku.
“Enak sekali Mas. Tapi kental dan baunya, hmm.., seperti air tajin saat Mama nanak nasi..! Enak pokoknya..! Lagi dong Mas, keluarkan spermanya..!”
Gila. Gila betul. Aku masih mencoba mengatur jalannya nafasku, Vivi minta spermaku lagi..? Edan anak ini.

“Baik, tapi kini Vivi ikuti perintahku ya..! Nanti tambah asyik, tapi sakit. Gimana..?”
“Kalau enak dan asyik, mauh. Nggak papa sakit dikit. Tapi spermanya ada lagi khan..?”
Aku mengangguk. Vivi mulai kubaringkan sambil kubuka kedua belahan pahanya yang mulus itu untuk melingkari di pinggangku. Vivi memperhatikan saja. Air dari shower masih mengucuri kami dengan dingin setelah tadi sempat kuganti ke arah cool.
“Auuuh, aduh.. Mas..!” teriak vivi kaget saat aku memasukkan batang kejantananku ke dalam liang vaginanya yang jelas-jelas sangat sempit itu.

Tetapi aku tidak perduli lagi. Kukocok vagina Vivi dengan deras dan kencang sambil kuremas-remas buah dadanya yang kecil, serta menarik-narik puting-puting buah dadanya dengan gemas sekali. Vivi semakin menjerit-jerit kesakitan dan tubuhnya semakin menggerinjal-gerinjal hebat.
“Sakiiit.. auuuh Mas.., Mas hentikan saja… sakiiit, perih sekali Mas, periiihhh… ouuuh akkkh… aouuuhkkk..!” menjerit-jerit mulut manisnya itu yang segera saja kuredam dengan melumat-lumat mulutnya.
“Blesep.. blesep… slebb..!” suara persetubuhkan kami kian indah dengan siraman shower di atas kami.

Aku semakin edan dan garang. Gerakan tubuhku semakin kencang dan cepat. Dapat kurasakan gesekan batang kemaluanku yang berukuran raksasa ini mengocok liang vaginan Vivi yang super rapat sempitnya. Dari posisi ini, aku ganti dengan posisi Vivi yang menungging, aku menyodok vaginanya dari belakang. Lalu ke posisi dia kupangku, sedangkan aku yang bergerak mengguncangkan tubuhnya naik, lalu kuterima dengan menikam ke atas menyambut vaginanya yang melelehkan darah.

“Tidak Masss… ouh sakit.. uhhk… huuuk… ouhhh… sakiiit..!” tangisnya sejadi-jadinya.
Tetapi aku tidak perduli, sepuluh posisi kucobakan pada tubuh bugil mungil Vivi. Bahkan Vivi nyaris pingsan. Tetapi disaat gadis itu hendak pingsan, puncak ejakulasiku datang.
“Creeet… crooot.. sreeet… crreeet..!” muncratnya air mani yang memenuhi liang vaginanya Vivi bercampur dengan darahnya.

Vivi jatuh pingsan. Aku hanya mengatur nafasku saja yang tidak karuan. Lemas. Vivi pingsan saat aku memasangkan kembali batang kemaluanku ke posisi dia, kugendong di depan dengan dadanya merapat pada dadaku. Pelan-pelan kujatuh menggelosor ke bawah dengan batang kemaluanku yang masih menancap erat di vaginanya.

TAMAT




Cerita Dewasa Seru | Montoknya Ibu Guruku





Perkenalkan namaku Priambudhy Saktiaji, teman-teman memanggilku Budhy. Aku tinggal di Bogor, sebelah selatan Jakarta. Tinggiku sekitar 167 cm, bentuk wajahku tidak mengecewakan, imut-imut kalau teman- teman perempuanku bilang. Langsung saja aku mulai dengan pengalaman pertamaku ‘make love’ (ML) atau bercinta dengan seorang wanita. Kejadiannya waktu aku masih kelas dua SMA (sekarang SMU). Saat itu sedang musim ujian, sehingga kami di awasi oleh guru2 dari kelas yang lain. Kebetulan yang mendapat bagian mengawasi kelas tempatku ujian adalah seorang guru yang bernama Ibu Netty, umurnya masih cukup muda, sekitar 25 tahunan.

Cerita Dewasa Seru || Tinggi badannya sekitar 155 cm. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, bentuk wajahnya oval dengan rambut hitam lurus yang di potong pendek sebatas leher, sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Yang membuatku sangat tertarik adalah tonjolan dua bukit payudaranya yang cukup besar, bokongnya yang sexy dan bergoyang pada saat dia berjalan. Aku sering mencuri pandang padanya dengan tatapan mata yang tajam, ke arah meja yang didudukinya. Kadang, entah sengaja atau tidak, dia balas menatapku sambil tersenyum kecil. Hal itu membuatku berdebar-debar tidak menentu. Bahkan pada kesempatan lain, sambil menatapku dan memasang senyumnya, dia dengan sengaja menyilangkan kakinya, sehingga menampakkan paha dan betisnya yang mulus.

Cerita Dewasa Hot || Di waktu yang lain dia bahkan sengaja menarik roknya yang sudah pendek (di atas lutut, dengan belahan disamping), sambil memandangi wajahku, sehingga aku bisa melihat lebih dalam, ke arah selangkangannya. Terlihat gundukan kecil di tengah, dia memakai celana dalam berbahan katun berwarna putih. Aku agak terkejut dan sedikit melotot dengan ‘show’ yang sedang dilakukannya. Aku memandang sekelilingku, memastikan apa ada teman-temanku yang lain yang juga melihat pada pertunjukan kecil tersebut.

Ternyata mereka semua sedang sibuk mengerjakan soal-soal ujian dengan serius. Aku kembali memandang ke arah Ibu Netty, dia masih memandangku sambil tersenyum nakal. Aku membalas senyumannya sambil mengacungkan jempolku, kemudian aku teruskan mengerjakan soal-soal ujian di mejaku.

Tentu saja dengan sekali-kali melihat ke arah meja Ibu Netty yang masih setia menyilangkan kakinya dan menurunkannya kembali, sedemikian rupa, sehingga memperlihatkan dengan jelas selangkangannya yang indah. Sekitar 30 menit sebelum waktu ujian berakhir, aku bangkit dan berjalan ke depan untuk menyerahkan kertas-kertas ujianku kepada Ibu Netty. “Sudah selasai?” katanya sambil tersenyum. “Sudah, bu….” jawabku sambil membalas senyumnya. “Kamu suka dengan yang kamu lihat tadi?” dia bertanya mengagetkanku. Aku menganggukkan kepalaku, kami melakukan semua pembicaraan dengan berbisik-bisik. “Apa saya boleh melihatnya lagi nanti?” kataku memberanikan diri, masih dengan berbisik. “Kita ketemu nanti di depan sekolah, setelah ujian hari ini selesai, ok?” katanya sambil tersenyum simpul.

Senyum yang menggetarkan hatiku dan membuat tubuhku jadi panas dingin. Siang itu di depan gerbang sekolah, sambil menenteng tasnya, bu Netty mendekati tempatku berdiri dan berkata, “Bud, kamu ikuti saya dari belakang” Aku mengikutinya, sambil menikmati goyangan pinggul dan pantatnya yang aduhai. Ketika kami sudah jauh dari lingkungan sekolah dan sudah tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di sekitar kami, dia berhenti, menungguku sampai di sampingnya. Kami berjalan beriringan. “Kamu benar-benar ingin melihat lagi?” tanyanya memecah kesunyian. “Lihat apa bu?” jawabku berpura-pura lupa, pada permintaanku sendiri sewaktu di kelas tadi pagi. “Ah, kamu, suka pura- pura…” Katanya sambil mencubit pinggangku pelan.

Aku tidak berusaha menghindari cubitannya, malah aku pegang telapak tangannya yang halus dan meremasnya dengan gemas. bu Netty balas meremas tanganku, sambil memandangiku lekat-lekat. Akhirnya kami sampai pada satu rumah kecil, agak jauh dari rumah-rumah lain. Sepertinya rumah kontrakan, karena tidak terlihat tambahan ornamen bangunan pada rumah tersebut. Bu Netty membuka tasnya, mengeluarkan kunci dan membuka pintu. “Bud, masuklah. Lepas sepatumu di dalam, tutup dan kunci kembali pintunya!” Perintahnya cepat. Aku turuti permintaannya tanpa banyak bertanya.

Begitu sampai di dalam rumah, bu Netty menaruh tasnya di sebuah meja, masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. Aku hanya melihat, ketika dengan santainya dia melepaskan kancing bajunya, sehingga memperlihatkan BH- nya yang juga terbuat dari bahan katun berwarna putih, buah dadanya yang putih dan agak besar seperti tidak tertampung dan mencuat keluar dari BH tersebut, membuatnya semakin sexy, kemudian dia memanggilku. “Bud, tolong dong, lepasin pengaitnya…” katanya sambil membelakangiku. Aku buka pengait tali BH-nya, dengan wajah panas dan hati berdebar-debar. Setelah BH-nya terlepas, dia membuka lemari, mengambil sebuah kaos T-shirt berwarna putih, kemudian memakainya, masih dengan posisi membelakangiku.

T-shirt tersebut terlihat sangat ketat membungkus tubuhnya yang wangi. Kemudian dia kembali meminta tolong padaku, kali ini dia minta dibukakan risleting roknya! Aku kembali dibuatnya berdebar-debar dan yang paling parah, aku mulai merasa selangkanganku basah. Kemaluanku berontak di dalam celana dalam yang rangkap dengan celana panjang SMA ku. Ketika dia membelakangiku, dengan cepat aku memperbaiki posisi kemaluanku dari luar celana agar tidak terjepit. Kemudian aku buka risleting rok ketatnya.

Dengan perlahan dia menurunkan roknya, sehingga posisinya menungging di depanku. Aku memandangi pantatnya yang sexy dan sekarang tidak terbungkus rok, hanya mengenakan celana dalam putihnya, tanganku meraba pantat bu Netty dan sedikit meremasnya, gemas. “Udah nggak sabar ya, Bud?” Kata bu Netty. “Maaf, bu, habis bokong ibu sexy banget, jadi gemes saya….” “Kalo di sini jangan panggil saya ‘bu’ lagi, panggil ‘teteh’ aja ya?” “Iya bu, eh, teh Netty” Konsentrasiku buyar melihat pemandangan di hadapanku saat ini, bu Netty dengan kaos T-shirt yang ketat, tanpa BH, sehingga puting susunya mencuat dari balik kaos putihnya, pusarnya yang sexy tidak tertutup, karena ukuran kaos T-shirt-nya yang pendek, celana dalam yang tadi pagi aku lihat dari jauh sekarang aku bisa lihat dengan jelas, gundukan di selangkangannya membuatku menelan ludah, pahanya yang putih mulus dan ramping membuat semuanya serasa dalam mimpi. “Gimana Bud, suka nggak kamu?” Katanya sambil berkcak pinggang dan meliuk-liukkan pinggulnya. “Kok kamu jadi bengong, Bud?” Lanjutnya sambil menghampiriku.

Aku terdiam terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan mencium bibirku, pada awalnya aku kaget dan tidak bereaksi, tapi tidak lama. Kemudian aku balas ciuman-ciumannya, dia melumat bibirku dengan rakusnya, aku balas lumatannya. “Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhh….” Gumamnya ditengah ciuman-ciuman kami. Tidak lama kemudian tangan kanannya mengambil tangan kiriku dan menuntun tanganku ke arah payudaranya, aku dengan cepat menanggapi apa maunya, kuremas- remas dengan lembut payudaranya dan kupilin-pilin putingnya yang mulai mengeras. “Mmmmhhhh….mmmmmhhhhh” Kali ini dia merintih nikmat.

Aku usap-usap punggungnya, turun ke pinggangngya yang tidak tertutup oleh kaos T-shirtnya, aku lanjutkan mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu kulanjutkan dengan menyelipkan jari tengahku ke belahan pantatnya, kugesek-gesek kearah dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vaginanya dari luar celana dalam yang dipakainya. Ternyata celana dalamnya sudah sangat basah. Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah masing- masing bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku dengan gemas, tangannya yang lain melepas kancing baju sekolahku satu per satu.

Aku melepas pagutanku pada bibirnya dan membantunya melepas bajuku, kemudian kaos dalam ku, ikat pinggangku, aku perosotkan celana panjang abu-abuku dan celana dalam putihku sekaligus. Bu Netty pun melakukan hal yang sama, dengan sedikit terburu-buru melepas kaos T- shirtnya yang baru dia pakai beberapa saat yang lalu, dia perosotkan celana dalam putihnya, sehingga sekarang dia sudah telanjang bulat. Tubuhnya yang putih mulus dan sexy sangat menggiurkan. Hampir bersamaan kami selesai menelanjangi tubuh kami masing-masing, ketika aku menegakkan tubuh kembali, kami berdua sama-sama terpaku sejenak.

Aku terpaku melihat tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun. Aku sudah sering melihat tubuh telanjang, tetapi secara langsung dan berhadap-hapan baru kali itu aku mengalaminya. Payudaranya yang sudah mengeras tampak kencang, ukurannya melebihi telapak tanganku, sejak tadi aku berusaha meremas seluruh bulatan itu, tapi tidak pernah berhasil, karena ukurannya yang cukup besar. Perutnya rata tidak tampak ada bagian yang berlemak sedikitpun. Pinggangnya ramping dan membulat sangat sexy.

Selangkangannya di tumbuhi bulu-bulu yang sengaja tidak dicukur, hanya tumbuh sedikit di atas kemaluannya yang mengkilap karena basah. Tubuh telanjang yang pernah aku lihat paling-paling dari gambar-gambar porno, blue film atau paling nyata tubuh ABG tetanggaku yang aku intip kamarnya, sehingga tidak begitu jelas dan kulakukan cepat-cepat karena takut ketahuan. Kebiasaan mengintipku tidak berlangsung lama karena pada dasarnya aku tidak suka mengintip.

Sementara bu Netty memandang lekat kemaluanku yang sudah tegang dan mengeras, pangkalnya di tumbuhi bulu- bulu kasar, bahkan ada banyak bulu yang tumbuh di batang kemaluanku. Ukurannya cukup besar dan panjangnya belasan centi. “Bud, punyamu lumayan juga, besar dan panjang, ada bulunya lagi di batangnya” katanya sambil menghampiriku. Jarak kami tidak begitu jauh sehingga dengan cepat dia sudah meraih kemaluanku, sambil berlutut dia meremas-remas batang kemaluanku sambil mengocok-ngocoknya lembut dan berikutnya kepala kemaluanku sudah dikulumnya.

Tubuhku mengejang mendapat emutan seperti itu. “Oooohhhh…. enak teh….” rintihku pelan. Dia semakin bersemangat dengan kuluman dan kocokan-kocokannya pada kemaluanku, sementara aku semakin blingsatan akibat perbuatannya itu. Kadang dimasukkannya kemaluanku sampai ke dalam tenggorokannya. Kepalanya dia maju mundurkan, sehingga kemaluanku keluar masuk dari mulutnya, sambil dihisap-hisap dengan rakus. Aku semakin tidak tahan dan akhirnya…, jebol juga pertahananku.

Spermaku menyemprot ke dalam mulutnya yang langsung dia sedot dan dia telan, sehingga tidak ada satu tetespun yang menetes ke lantai, memberiku sensasi yang luar biasa. Rasanya jauh lebih nikmat daripada waktu aku masturbasi. “Aaaahhhh… ooooohhhhh…. teteeeeehhhhh!” Teriakku tak tertahankan lagi. “Gimana? enak Bud?” Tanyanya setelah dia sedot tetesan terakhir dari kemaluanku. “Enak banget teh, jauh lebih enak daripada ngocok sendiri” jawabku puas. “Gantian dong teh, saya pengen ngerasain punya teteh” lanjutku sedikit memohon. “Boleh…,” katanya sambil menuju tempat tidur, kemudian dia merebahkan dirinya di atas ranjang yang rendah, kakinya masih terjulur ke lantai.

Aku langsung berlutut di depannya, kuciumi selangkangannya dengan bibirku, tanganku meraih kedua payudaranya, kuremas-remas lembut dan kupilin-pilin pelan puting payudaranya yang sudah mengeras. Dia mulai mengeluarkan rintihan-rintihan perlahan. Sementara mulutku menghisap, memilin, menjilat vaginanya yang semakin lama semakin basah. Aku permainkan clitorisnya dengan lidahku dan ku emut-emut dengan bibirku. “Aaaaaahhhhh… ooooohhhhhh, Buuuuddddhyyyyy…, aku sudah tidak tahan, aaaaauuuuuhhhhhh!” Rintihannya semakin lama semakin keras. Aku sedikit kuatir kalau ada tetangganya yang mendengar rintihan-rintihan nikmat tersebut.

Tetapi karena aku juga didera nafsu, sehingga akhirnya aku tidak terlalu memperdulikannya. Hingga satu saat aku merasakan tubuhnya mengejang, kemudian aku merasakan semburan cairan hangat di mulutku, aku hisap sebisaku semuanya, aku telan dan aku nikmati dengan rakus, tetes demi tetes. Kakinya yang tadinya menjuntai ke lantai, kini kedua pahanya mengapit kepalaku dengan ketat, kedua tangannya menekan kepalaku supaya lebih lekat lagi menempel di selangkangannya, membuatku sulit bernafas. Tanganku yang sebelumnya bergerilya di kedua payudaranya kini meremas-remas dan mengusap-usap pahanya yang ada di atas pundakku. “Bud, kamu hebat, bikin aku orgasme sampai kelojotan begini, belajar darimana?” Tanyanya. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Aku memang banyak membaca tentang hubungan sexual, dari majalah, buku dan internet.

Sementara itu kemaluanku sudah sejak tadi menegang lagi karena terangsang dengan rintihan-rintihan nikmatnya bu Netty. Akupun berdiri, memposisikan kemaluanku didepan mulut vaginanya yang masih berkedut dan tampak basah serta licin itu. “Aku masukin ya teh?” Tanyaku, tanpa menunggu jawaban darinya, aku melumat bibirnya yang merekah menanti kedatangan bibirku. “Oooohhhh…” rintihnya, “Aaaahhhh…” kubalas dengan rintihan yang sama nikmatnya, ketika kemaluanku menembus masuk ke dalam vaginanya, hilanglah keperjakaanku. Kenikmatan tiada tara aku rasakan, ketika batang kemaluanku masuk seluruhnya, bergesekan dengan dinding vagina yang lembut, hingga ke pangkalnya.

Bu Netty merintih semakin kencang ketika bulu kemaluanku yang tumbuh di batang kemaluanku menggesek bibir vagina dan clitorisnya, matanya setengah terpejam mulutnya menganga, nafasnya mulai tersenggal- senggal. “Ahh-ahh-ahh auuuu!” Kutarik lagi kemaluanku perlahan, sampai kepalanya hampir keluar. Kumasukkan lagi perlahan, sementara rintihannya selalu di tambah teriakan kecil, setiap kali pangkal batang kemaluanku menghantam bibir vagina dan clitorisnya. Gerakanku semakin lama semakin cepat, bibirku bergantian antara melumat bibirnya, atau menghisap puting payudaranya kiri dan kanan.

Teriakan-teriakannya semakin menggila, kepalanya dia tolehkan kekiri dan kekanan membuatku hanya bisa menghisap puting payudaranya saja, tidak bisa lagi melumat bibirnya yang sexy. Sementara itu pinggulnya dia angkat setiap kali aku menghunjamkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang kini sudah sangat basah, sampai akhirnya, “Buuudddhhyyyyyy…. aku mau keluar lagiiiiii… oooohhhhhh… aaahhhhh” teriakannya semakin kacau. Aku memperhatikan dengan puas, saat dia mengejan seperti menahan sesuatu, vaginanya kembali banjir seperti saat dia orgasme di mulutku. Aku memang sengaja mengontrol diriku untuk tidak orgasme, hal ini aku pelajari dengan seksama, walaupun aku belum pernah melakukan ML sebelum itu.

Bu Netty sendiri heran dengan kemampuan kontrol diriku. Setelah dia melambung dengan orgasme-orgasmenya yang susul- menyusul, aku cabut kemaluanku yang masih perkasa dan keras. Aku memberinya waktu beberapa saat untuk mengatur nafasnya. Kemudian aku memintanya menungging, dia dengan senang hati melakukannya. Kembali kami tenggelam dalam permainan yang panas.

Sekali lagi aku membuatnya mendapatkan orgasme yang berkepanjangan seakan tiada habisnya, aku sendiri karena sudah cukup lelah, kupercepat gerakanku untuk mengejar ketinggalanku menuju puncak kenikmatan. Akhirnya menyemburlah spermaku, yang sejak tadi aku tahan, saking lemasnya dia dengan pasrah tengkurap diatas perutnya, aku menjatuhkan diriku berbaring di sebelahnya.

Cerita Dewasa Nakal || Nakalnya Ibu Mertuaku






Cerita Dewasa Nakal- waktu itu sekitar gua masih inget banget desember 2010, baru 2 tahun yang lalu
ibu ibu mertua gua kejadian gua garap juga, ibu mertua gua belum terlalu tua umurnya aja sekitar 40 tahun beda sekitar 7 tahun sama gua yang emang beda umur gua sama istri gua 12 tahun,
mukanya gak jauh beda sama istri gua, bahkan lebih kelihatan cantik dan body nya juga lebih ingin banget gua grepe, tinggi sekitar 168cm, kalau di taksir susu nya kayaknya sekitar 36D (kalau diliat dari luar), lekukan2 nya memang masih pada tempat2 yang pas.

buat yang belum tau gua, Gua sendiri umur gua saat itu 33 tinggi badan 177 cm, untuk urusan body dan muka standart aja
gua kebetulan bisnis jual beli online apa aja yang gua anggep bisa menguntungkan
kalo gua anggep menguntungkan dan gua udah paham barangnya langsung sikat
tapi ada juga yang harus gua pelajari barang dagangan sampe gua kadang harus keluar kota bahkan sampe luar negri
saat ini gua tinggal di jakarta selatan bersama istri gua yang cantik sexy dan mampu bikin gua orgasme berkali kali
keluarga istri gua dulunya juga tinggal di jakarta tapi semenjak ayah mertua gua meninggal, ibu mertua memilih pulang kampung

ceritanya berawal saat gua harus mengecek dan mempelajari barang dagangan gua dari satu kota ke kota lain, karna gua emang type orang yang suka adventure gua memilih nyopir sendiri ke surabaya, 3 hari gua di surabaya gua pun on the way balik ke jakarta dan sesuai pesan istri gua guapun mampir nengok ibu mertua di semarang, katanya sekalian juga mumpung liwat
dari surabaya siang sampe semarang jam 7 malem gua bingung kenapa nih rumah mertua berantakan, akhirnya pas gua pencet bel ibu mertua gua buka pintu dan kaget sama kagetnya gua pas liat ibu mertua gua sexy banget pake lingier dalam hati gua bini gua kalah sexynya, sementara ibu mertua gua kaget gua kok bisa ada di semarang
akhirnya setelah cap cip cus ternyata rumah mertua lagi proses renovasi katanya modelnya udah ketinggalan jaman dan ibu pengen bikin mini market di depan lagian jugakan ibu sekarang sendiri jadi gak butuh kamar banyak

“mandi udah makan juga udah kamu biasanya ngopi ben ibu bikinkan ya”
“cocok bu” gua terus memandangi ibu mertua gua dari belakang soalnya itu cd kebayang di dalem lingiernya yg sexy bikin si otong bergetar dan menggeliat
Mertua dateng bawa kopi dan duduk di sofa yang sama ama gua tapi di ujung dan gua di ujung satunya
“bu aku nginep di sini ya besok pagi pagi aku langsung berangkat pulang jakarta”
“ya iya lah nginep mosok mau langsung pulang, tapi nanti kamu tidur sekamar sama ibu gak papa ya, soalnya kamar yang lain udah terlanjur di bongkar”
“aku tidur di sofa sini aja gak papa kok bu..!”
“ibu tu udah tau kamu, kamu gak bisa tidur di sofa, udah gak papa lagian juga tidur sama ibu mertua kan sama aja ibu sendiri kenapa mesti malu”
Dalam hati pas itu seneng banget, tapi pura2 akhirnya gua iyain deh tuh ide, dan di hati gua awas nanti loe bu gua bikin ketagihan
“ibu tuh masih muda, cantik dan sexy kenapa ibu gak nikah lagi aja sih..?
“enggak lah ben ibu gak mau menghianati ayahmu..!”
Gua gak mau membantah kalo alesannya udah hal itu karna kesetiaan itu gak bisa di bayar pake apapun
“ya udah ya ben ibu tidur duluan nanti kalo kamu dah ngantuk kamu tidur aja di kasur sama ibu gak usah malu ya”
“I iya bu..”
Setelah satu jam perkiraan gua pasti ibu mertua gua udah pules, gua masuk kamar mertua gua dan ternyata beneran udah pulas, guapun buka celana dan Cuma pake cd, karna emang kebiasaan gua kalo tidur gak pake celana dan Cuma sempak doang, ikutan masuk selimut, pada waktu itu ibu mertua gua posisinya membelakangi gua
“dah ngantuk ben..?” ternyata mertua gua ngerasain kehadiran gua
“iya bu..!”
Diapun balik lagi tidur sementara gua mengatur siasat gimana caranya gua bisa menikmati ibu mertua gua yang sexy ini
“ibu gak ada guling ya..?
“gulingnya di kamar sebelah di masukin kardus ben, kamu peluk ibu aja ga papa, ibu dah ngantuk banget”
Te tettttttttt ini yang gua cari2 (dalam hati gua jingkrak jingkrak)
“maaf ya bu aku peluk..” dia hanya mengangguk
Gua belum berani menempelkan otong ke belahan pantatnya soalnya si otong udang tegang banget, setelah 15 menit gua nempelin juga tuh otong ke belahan pantatnya yg nonggeng sambil gua gesek2 terus
“ben….. ini kok ada yang keras begini? “ternyata dia kebangun gara2 otong gua
“ Ini keras begini gara2 ibu ben..?” sambil dia nyentuh2 penis gua buat mastiin kalo beneran keras
Dengan malu2 gua jawab
“iya bu, tapi jangan marah yah….. soalnya dah seminggu gak dapet jatah bu, jangan marah yah, aku janji gak macem2 Cuma nempelin aja”
“ibu nga marah, tapi masa sih kamu napsu sama ibu? ibukan udah tua ben? Udah kendor semua, banyak keriput, masa sih kamu bisa napsu sama ibu”
Dengan malu2 gua jawab “iya bu, kan tadi benny udah bilang kalo udah seminggu gak di keluarin ya gini nih bu”
“ben ben…… kamu bener2 napsu gede? Ya udah tapi beneran ya gak boleh begituin ibu”
“iya bu aku janji……. Cuma gesek2 aja” gua terus menggesekkan otong gua ke belahan pantatnya meskipun masih ketutupan lingier sempat gua dan cd ibu mertua gua, sambil gua raba2 toketnya dan belum berani ngremes setelah 15 menit gua mencoba nego karna gua juga ngerasain nafas mertua gua sedikit meningkat
“bu boleh gak aku gesekin langsung kena kulit ibu biar cepet keluar..? pleash ya bu tolongin”
“nggak ibu gak mau buka cd ibu..!, nanti kamu kebablasan..!”
“gak usah di buka bu, Cuma di singkap dikit aja dari bawah bu..”gua diam2 udah melorotin sempak gua sampe lepas, terus gua singkap sedikit cdnya dan gua gesekin langsung kebelahan pantatnya
Terasa lebih hangat kulit ketemu kulit
“okhh bu enakk bu…!” gua mendesah memancing birahi ibu mertua gua, sambil sesekali sengaja gua menggesek lebih bawah biar kesenggol lubang memeknya yg udah rada2 lembab
“masih lama ben..? kalo masih lama di jepit paha ibu aja biar cepet” gua gak komentar langsung menurutinya dan ternyata saat di jepit lebih enak dan terasa agak basah karna ada pelumas dari memek mertua
“bu sakit bu kena kain cd ibu..buka aja deh bu”dia tidak protes saat gua melepas cdnya karna nafasnya semakin memburu, dan tetap pada posisi miring sekarang terasa banget konti gua bergesekan sama bibir memek mertua gua yang udah basah
“okhhh bu basah jadi enak banget bu..! ibu enak juga kan..?
“he ekhhh ben ibu jadi ikutan bas..sahhh juga tuh..”dia akhirnya ngaku dan gua mulai mengatur posisi miring gua biar bisa masukin konti gua ke mexinya dan akhirnya
“okhhhh ben kok di masukin ekhhhhh..!”
“tapi enakkan bu..? memek ibu legit banget okhhh..”
“kok gede banget sih ben?” padahal penis gua sih cuma 17cm panjang n 3.5cm lebarnya
“masa sih bu? Kata ning biasa aja kok… Mungkin terlalu lama ibu gak ngerasain” kata gua, mertua gua cuma mendesisi sambil matanya melotot mulut nya kebuka udah kaya kepedesan
“sori ya bu masuk, soalnya dah ngebet banget” kata gua
“nga pa2 kok ben, barang kamu ini bukan cuma panjang tapi gede juga yah, pasti ning seneng banget punya suami kamu??” katanya sambil mulai menggoyang konti gua pelan2
“ibu tadi kasian sama kamu, udah keras begini gak tersalurkan, Biar lemes lagi katanya Cuma di gesekin malah di masukin”
“aaaahhhhhhhh enak banget…….beeennnn” dia terus nyerocos ke enakan
gua juga keenakan ngerasain mexinya yang legit, setelah 10 menit makin ganas maennya…….. penis gua kayak di isep2, di emut2
“bennnn…….. iya bennnnn…… aduh pinter deh kamu, yang kenceng remes tete ibu juga nga pa2” ternyata ibu mertua gua yang selama ini santun banget, aslinya kalo udah napsu juga binal banget
“iya bu…… aduh enak banget memek ibu ngisepin ****** saya” tangan gua skrg udah terus ngeremes toketnya yang ukuran 36D
“aahhhhh beennnnnnn…… iyaaa bennnnnn…… enak banget genjot terus ben……. ibu udah nga pernah ada yang nyentuh memek ibu ssssshhhhhhh aaahhhhh……. Terus bennnn”
Kayaknya memang mertua gua ini udah 6 tahun nga pernah ada yang nyentuh deh padahal dia cakep, kaya n pengusaha gitu…….. langsung gua ganti posisi telentang dan mertua gua yang udah pasrah nurutin semua kemauan gua langsung naik dan memasukkan konti gua ke mexinya dan bergoyang.

Pas mau copotin dasternya dia nolak “jangan ben, ibu malu……. ibu kan udah tua, badan nya ibu udah kendor n keriputan semua……” tapi ujung2nya juga nurut sambil gua ciumin leher n kuping dia gua bukain dasternya dari atas, kali mertua udah bugil total sambil bergoyang di atas gua
Sampe akhirnya “akhhhh ben gila enak banget ibu keluar ben okhhhhhhh…” mertua gua udah dapet akhirnya gua cabut konti gua dan gua rebahin di kasur, sambil nunggu sisa2 kenikmatan yang di rasain sekarang gua mulai pindah ke toket nya yang memang gede tapi udah gua remes2 sambil gua jilat2in n isep2in pentil nya. dia langsung jambak2 rambut gua halus2…….
“iya……. Aarrrrgghhhhhh……… enaknya……..” saking gemesnya pentil gua gigit2 maen2 “aawwwwww…….. sakit ben….. jangan terlalu keras yah…… boleh tapi jangan keras2” protes ibu mertua, sekitar 7 menit gua maen di gunung kembar yang akhirnya makin lama remesan, isepan n gigitan gua makin keras dan mertua juga udah nga bisa ngomong apa2 lagi, yang keluar cuma “ssssshhhhhhssssss……. Beennnn……. Iyaaaa……. Aaaahhhh……. Terus ben……. Masukin lagi dong ben ibu pengen ngerasain lagi”
Gua kagak langsung maen tancep lagi tapi gua lanjutin ke paha dalam nya mertua, gua elus2……. Gua cium2….. gua jilat2……. Gua gigit2 sambil nyupangin…… gantian kiri kanan, mertua gua kayaknya udah kelojotan gua maen di daerah bawah…… dia cuma bisa
“mmmppphhhhh……. Ssshsss……. Iya ben…… ahhhhhhh……” sambil ngelus2 kepala gua. Makin deket gua maen nya sama memek dia, makin kayak cacing kepanasan dia, badan nya menggeliat melulu, kepala nya bolak balik kiri kanan terus2an sama tangan nya neken2 kepala gua supaya posisi pas di tengah memeknya (soalnya gua memang sengaja bikin dia ketagihan dan bakal nagih napsu ke gua, dengan maenin bagian samping nya dulu, sambil nyerempet2 dikit hehehe)
“bennnnnnn iihhhhhhhh……. Sssshhsssss aaahhhhhhhhh kamu jahat dehhh……. Nyiksain ibu yah??? Mmmmmmmm ahhhhhhhhhh” skrg ini memek nya mertua udah basah bener2 basah sampe banjir agak netes2 keluar dikit. Soalnya tadi juga dia udah orgasme duluan,
Dengan Tiba2 mulut gua langsung gua arahin ke memek dia, langsung gua jilatin bagian tengah nya “AAAAAAHHHHHHHH……… BENNNYYYYYY…….. SSSSHSSSSS……. MMMMPPPHHHHH……. IYA BENNNN…….. TERUS…….. SSHSHHHHHSSSS……. ENAK BANGET……” tangan dia langsung neken muka gua sedalem mungkin ke memek dia, sampe rada susah nafas n basah deh muka gua…….

mertua gua makin menggila aja “AAAAAHHHHHH IYA BENNN……. IBU BELOM PERNAH DI BEGINIIN…… SSSSSHHHHH…..MMMMPPPPHHHH……. KAMU PINTER BANGET SIHHHHH???? AAHHHHHHH…….” Denger mertu makin gila, gua juga makin kenceng aja, jilatin nya, sampe pas gua sedot2 memek nya kenceng, mertu tiba2 neken memek nya ke kepala gua kenceng banget “AAAHHHHHHH BENNNNN!!!! IBU NYAMPEEEEEE….. LAGGIIIIIIIIHHH!!!!! AAAAHHHHHHHH GILAAA…..”
Pinggul nya naek setinggi bahu gua tapi kepala gua di teken sama dia sambil ngejambak rambut gua……. Memeknya mertua gua langsung nyemprotin cairan kayak kalo kita coly dan nembak muka gua dipake buat ngelap sama dia naek turun memeknya dia……..

Belom sempet ambil nafas, gua tetep sedot2in memeknya n pindah ke clit nya….. dia langsung kaya kena setrum pinggul nya naek lagi n langsung teriak2…… “BENNNNNN……. STOPPPPP…… GELIIIII…….. IBU BARU NYAMPE…… ISTIRAHAT DULU YAHHHHH…..” gua tetep cuek n jilat2in terus, baru sebentar gua mulai sedot2 clit nya…… ibu mertua kayaknya bener2 nga kuat n nyampe lagi…… “AAAARRRRGHHHHHHH…….. BEENNNNYYYY…… EDAAANNNN….. IBU NYAMPE LAGIIII……… AARRGGHHHHH……MMMMMPPPHHHHH……. SSSHHHSSSS…….. BEEENNNNNNNNN AMPUNNNNNNN…….. “ muka gua yang udah basah lagi2 di teken2 sampe nga bisa nafas n di naek turunin memek dia, tapi mulut gua tetep kekeh nyedot n gigit pelan clit dia…….. sampe akhirnya gua stop n pinggul dia masih naek tinggi n neken kepala gua ke memek dia……. Nga lama dia langsung ambruk gak punya tenaga
Gua ikutan rebah di sampingnya kita ciuman sambil bersilat lidah, mertua gua juga jilat2in muka gua yang basah sama cairan dari memek dia “makasih yah ben……. Ibu udah lama nga pernah ngerasain yang beginian lagi, apalagi dijilatin sampe nyampe 2 kali berturut2 begitu. Sampe lemes banget nih ibu” gua cium di bibir sambil bilang kalo dia itu masih cantik banget n gua seneng banget udah bisa bikin dia sampe nyampe n dengan senang hati ngelanjutin lagi. Mertua gua cuma senyum n kiss balik
“hmmmmmmm……. Nakal yah kamu ben?? Kasian banget ning punya suami nakal gini”
“ihh ibu udah dapet 3 kali juga masih bilang aku nakal”
“iya nakal ibu mertua di entotin juga, tapi kamu masih kuat begitu yah? Ehhhhhhh……. Bahaya nih bisa bisa ibu pingsan nih ngelayanin kamu?” gua Cuma ternsenyum aja
“sini ibu gak mau kalah..!” sambil ciuman dashyat, jilatan2 leher, tangan mertua mulai ngocokin ****** gua.

Serangan balik dari mertua gua imbangin gua juga mulai ciumin toket dia soalnya udah keliatan kalo napsu nya udah mulai kepancing dari rintihan2 kecil nya, pentilnya juga udah mulai keras sambil gua pelintir2, maenin kaya nyari frekuensi radio “mmmmmmm…… ahhhhhhhh enak ben……. ARRRGHHHHH…….. jangan terlalu keras donk gigit nya” pas gua mulai gigitin pentilnya sebelah nya. Ngeliat mertua udah mulai kaya cacing kepanasan lagi, ****** gua juga mulai keras gara2 kocokan dia.
“hhhmmmmmmmm bennyyyyy kamu nakal banget yahhh??? Ahhhhhhhhhh enaknya bennnnn…….. ibu udah basah lagi nih…… kamu pinter yah…… sssshhhssssss……. Ben ibu minta yg kaya tadi lagi yah?”

“yang mana bu?” jawab gua “yang tadi kamu bikin ibu kelojotan 2 kali itu loh” sambil tetep jilat2in pentilnya, tangan ngelus2 paha n remes toket sebelahnya
“udah lupa bu, coba di bilangin yang jelas mau di apain sama saya?” sengaja gua pancing, pengen denger mertua yang biasa nya santun jadi ngomong jorok “mmmmmm……. Iiihhhh kamu jahat n nakal yah……. Aahhhhhhhh……. Iya benny…… ibu mau kamu ciumin….. jilatin…. Isepin….. n gigitin memek ibu……..”

napsu di ubun2 denger mertua ngomong jorok, langsung gua kabulin permintaan dia “AAARRRRGGHHHHHHHH…….. MMMMPPPPPPFFFFFFF………. AAAHHAAAHHHAHHHH…….. IYA BENNNNNN……. .GILLAAAA…… TERUSSSSSSSS” sekarang gua variasi gua obok2, keluar masukin jari gua di memek mertua yg udah basah sambil nyedot2 n gigit halus clit dia
“terus mau di apain lagi bu?”
“aaaahhhhh…… aahhhhhh….. ahhhhhhh masukin ben…… ibu udah nga tahan” sengaja pengen aja mertua ngomong jorok lagi gua tanya (padahal sih ngerti lahhhhh)
“masukin apa bu? Harus yg jelas ngomong nya kalo engga nanti saya brenti nih” goda gua……
“aaaaahhhhhhhh ahhhhhhhh enak nya bennnn…….. kamu suka dengerin ibu minta yang engga2 ke kamu yah??? Mmmmmmmm…… aaaahhhhhh……. Iyaaa…… masukin ****** kamu ke memek ibu ben!!! entotin memek ibu ben……!!! Masukin bennn……..!!! please……. ibu udah nga tahannnnn” pinta mertua gua yang sekaragn udah jadi binal

pelan2 ciuman gua mulai naek dari clit ke paha dulu…… ke perut….. mampir di gunung kembar favorit gua…… ke leher n belakang kuping……. ****** gua skrg udah di depan memeknya yang udah basah banget “mmmmppppffffff……. Ahhhhhhhhh….. ibu nga tahan ben…….” Rupanya mertua gua ini udah kesetanan nagih di setubuhin lagi, tangannya langsung megang ****** gua, di arahin ke depan lobang memek n langsung di tuntun masuk pelan2…….. “AAAAAHHHHHHHH……… ENAKNYA BENNNNN… GEDE BANGET ****** KAMU……..” tangan mertua gua dilepas n pelan2 ****** gua masuk ke lubang surga dia yang anget, basah, licin tapi sangat nyengkrem udah masuk setengah jalan, langsung gua teken keras2 sampe mentok sedalem2nya ke memeknya “AAAAAAAGGGGHHHHHHHHHH………… PELAN2 BENNNN…… SAKITTT………” mata dia kebuka lebar n langsung gigit bibirnya sendiri (seksi banget nih pas gigit bibir nya lagi napsu)

geliat mertua tetep ke enakan meskipun dia teriak karna teriak keenakan, ****** gua tetep gua mentokin sampe ujung sambil gua goyangin pinggul gua dikit2 “HMMMMMMMMM………. SSSSSHHHHSSSS……… enak banget sih ****** kamu ben??? Gede begitu….. sampe2 memek ibu penuh tuhhhhhh” mertua gua maenin tangan nya di kepala gua sambil cium2 leher gua………

mulai deh gua genjot pelan2 memek mertua gua……. Di atas tubuhnya, gua mulai maju mundurin pinggul gua mulai nya pelan2 n nga terlalu jauh nyabut nya “aaaahhhhh…… mmmmmmmmmm…….. iya benn……. Mmmpppffff……. Aaaggghhhhh…….” Kita tetep di posisi n speed ini kira2 5 menit, mertua udah mulai ke enakan lagi tangan nya narik tangan gua ke toket dia minta di remes2……. “aaaaahhhhhhhhh aaaaahhhhhhhh sshssssshhhsssssss mmmmmmmmmm iya bennnnnn oooohhhhhhhhh enaknya ****** kamu……. Aaaahhhhhhhhhhh terus bennnnnnn ibu udah mau sampe…….”
Denger aba2 dia langsung gua genjot kenceng2 n sekali2 gua cabut nya jauh2 ampir keluar n gua tancepin lagi ke memek mertua sedalem2 n sekuat2 nya…….. makin lama makin kenceng……. “AAAAAAHHHHHHH……. IYA BENNN…… OOOOHHHHH TERUSSS BENNN……… AAAUUUWWWWWW…….. AAAHHHH……. MMMMPPPPFFFTTTTT…… GILLAAAAAAA……. BENNNNNN……. IBU UDAH MAU SAMPE LAGIIII…… TERUS BENNNNNNN!!!!! YG KENCENG N KERAS BENNNNN…… AAHHHHHHHH” 2 menit kemudian mertua gua nyampe lagi…….. bibir nya di gigit keras2, punggung nya di angkat melengkung, tangan nya neken pantat gua ke memek dia sedalem2nya, matanya cuma keliatan putih nya doank sambil melenguh kenceng banget……. “BENNNNNNNYYYYY…….. IBUUUU SAMPEEEEEE…….. AAAAGGGGHHHHHH……. ENAKNYAAAAAA…… AAAHHHHHHH AMPUN BENNNNN……… OOOOHHHHHH…… MMMMPPPPPFFFTTT…….”

mertua masih nikmatin kepuasan dia, ****** gua yg masih kenceng n tanggung, langsung badan dia gua balik n gua suruh nungging……. “bennn?? ibu mau kamu apain lagi?? Ibu nga kuat deh…… ibu masih lemes barusan nyampe gara2 ****** kamu tuh” nga gua gubris…… ****** gua arahin ke memeknya langsung mulai gua genjot lagi…… langsung speed medium, mertua gua ternyata langsung ke enakan juga pas toket dia gua remes2 dari belakang sambil gua genjot…… : ) “aaaaaahhhhhhh bennnnnn……. Jahat deh kamu ibu lemes nih…… mmmmmmmm……. Aahhhhhhh…….. iya bennn…… aaaaahhhh……..”

Denger mertua cuma setengah protes doank gua tetep jalanin terus aja…….. sambil gua sodok dalem2 memek nya, toket gua remes2, gua jilatin n cupangin leher n pundak dia…… sekali2 gua tampar pantat nya PLOKKK…….. PLOKKKKK……. “aaaaawww aaaaahhhhh……. Ssssshhhhssss…….. aaaawwwwww aaaaahhhhhhhh mmpppffftttt….. iya bennnn…….. terus bennnn……. Enak……. Oooohhhhhh ya ampun….. enaknya….”
“apa nya yg di terusin buu?? Ayo kasih tau yang jelasssss……. PLOOKKKKK” gua tanya n gua tampar lagi pantat mertua gua, udah 3 menit nih di doggy, mertua jawab nya setengah teriak “aaaaaaauuuuwwww…….. aaaarrrggghhhh……… iya benn…… ssshhhssssssss ngentot in memek ibu..….!!! Sssshssssss….. aaaaahhhhhhh ngetotin pake ****** kamu yg gedeeeee!!! Aaaaaaahhhhhhhh”

mertua gua udah mulai keliatan tanda2 mau nyampe lagi kalo udha ngomong nya binal n nga di pikir2 lagi, langsung aja gua genjot speed tinggi……. Ceplak ceplok ceplak ceplok suara ****** gua nge hantem memeknya yang udah basah banget sampe bulu jembut gua basah total…….. speednya gua naekin lagi soalnya gua juga udah mulai ngerasa mau nyampe juga……. Di kamar skrg cuma suaranya ibu mertua teriak2 ke enakan, plus gua tampar2 pantatnya yg bulet n suara ****** gua keluar masuk memek basah…… “AAAAAGGGHHHHH BEENNNNNNN CEPLAK CEPLOK CEPLAK CEPLOK…. MMMMMMMMMMMMM AAAAWWWWWW PLOKKK……. BBBEEEENNN……

mertua gua noleh ke samping pala nya dongak ke atas sambil gigit bibir
"BEENNNN……… AAAHHHHHHH IBU MAU NYAMPE LAGIIII…….. AAAAAHHHHHH BENNNNYYYYYYY TERUSSSS………”
Ngeliat pemandangan yang luar biasa, mertuaku noleh ke samping dengan muka nya skrg super sensual, kulit badan nya yg mulus…….. punggung nya melengkung…… tangan nya remes2 toket sendiri……. Mata terpenjam bibir di gigit sambil mendesah saat terbuka. Gua sendiri juga udah mau sampe n mulai nge genjot memeknya sedalem2, sekeras2 n sekenceng2 nya……… “IBUUUU SAMPE BEEEEEENNNNN…….. AAAAAARRRRGGHHHHHHHH GILLLAAAA……… IBUUU NYAMPEEEEE….. OOOOOHHHHHHHHH……… SSSSSHHHSSSSS…….. MMMMPPPPFFTTTTT…… AAAAHHHHHHHHHHH”
“benny juga mau udahhhh mau sampe”gua dorong tuh ****** ke memek mertua sedalem2 nya yang udah basah……. Nga peduli dia udah nyampe soalnya gua juga tinggal dikit lagi……..
“AAAAHHHHH BHUUU……. BENNY UDAH MAU NGECROT…..”
“AAAHHHHHHHH BEEEENNNNNNNN…….. GILLLAAAAA…… ADUH IBU MAU NYAMPE LAGI BEEENNNN……. AAAAAHHHHHH SSSHSSSS….. MMMMPPFFFTTTTTT BUSYETTTTTT BEEENNN……… IBU NYAMPEEEEE LAGIIIIIII......!!!!!”

Akhirnya gua nyampe barengan ibu mertua gua kali ini
“AAARRRGHHHHHHH BENNY SAMPE BHUUUUUU” “AAARRRRRGHHHHHHHH IYA BEEENNNNN……. OOOHHHHHH SSSHSSSSSSSSSSSS” pejuh gua nyembur ke dalem memek mertua gua pas gua dorong sampe mentok…….. posisi dari doggy saat itu kaki mertua gua udah nga kuat n ambruk di posisi tengkurep, ****** gua masuk di dalem memek dia, sambil gua ciumin leher dia “aaaaaaahhhhhhhh bennnnnnn enak nyaaaaaaaa……. Mmmmmmppppffffffff……. Sssshhhhhsssssss……… gila deh kamu……. ibu barusan nyampe 3 kali sekaligus lohhhhhhh…… ssshsssssssss…….. enaknyaaaa…….”

Gua cabut ****** dari memek ibu mertua gua n kita baringan samping2an sambil cium2an
“bennn kamu hebat banget….. kalo ibu jadi ketagihan nanti gimana nih……?”
“makanya ibu tinggal sama kami aja di Jakarta yah?”
“gimana nanti aja deh sekarang ibu cakep banget..!”
“abis memek ibu enak banget sih…… anget….. kayak nyedot nyedot gitu ” mertua gua cuma kesipu2 aja sambil manja2an n ngejawab
akhirnya gua menginap 3 hari di semarang setelah menelpon istri gua bilang kalau ibu sedang merenovasi rumahnya dan gua pengen bantuin dia dulu di semarang, padahal sebenarnya 3 hari itu gua puas puasin ibu mertua gua yang sexy tiap malamnya selalu gua buat terkapar bagaikan tak meiliki sumsum tulang.


-*TAMAT*-


Cerita Dewasa Seks Tante Hijab yang Khilaf






Cerita Sex | Cerita Dewasa Terbaru | Cerita Ngentot | Cerita Mesum | Cerita ABG | Cerita Porn | Cerita Seks Dewasa – Khilafnya Wanita Berjilbab. Aku tidak terpikir untuk bisa ngentot dengan wanita berjilbab beruntunga saja aku bisa mnikmati memek ranumnya wanita itu, kali ini aku akan berbagi pada kalian semua awal  cerita begini, perkenalkan namaku Wisnu umurku 28 tahun dengan tinggi 169 cm rambutku pendek dan lurus, aku akui ukuran penisku lumayan panjang dan besar.

Cerita Seks Tante Hijab yang Khilaf
Aku tinggal di rumah kost2 an istilahnya rumah berdempet2an neh ada tetanggaku yg bernama Ibu Kinah, berjilbab umurnya sekitar 33 tahun, anaknya dah 3 yang paling besar masih sekolah kelas 5 SD otomatis yg palg kecil umur 1,8 bln, sedangkan suaminya kerjanya di kontraktor (perusahaan) sebagai karyawan saja.

Setiap hari Ibu Kinah ini wanita yang memakai jilbab panjang2 sampai ke lengan2nya boleh dikatakan aku melihatnya terlalu sempurna utk ukuran seorang wanita yag sdh berumah tangga dan tentunya aku sangatlah segan dan hormat padanya.
Suatu ketika suaminya sdh pergi ke kantor utk kerja dan aku sendiri masih di rumah rencananya agak siangan baru aku ke kantor

“Wisnu ”ibu Kinah memanggil dari sebelah karena aku msh malas2 hari ini so aku tidur2an aja di t4 tidurku ”Wisnu Wisnu ” Ibu minta tolong bisa ?? ujar Ibu Kinah dari luar aku sbenarnya dah mendengar namun rasanya badanku lagi malas bangun
karena mungkin aku yang di panggil tdk segera keluar, maka ibu Kinah dng hati2 membuka pintu rumahku dan masuk pelan2 mencari aku seketika itu juga aku pura2 tutup mataku dia mencari2 aku dan akhirnya dia melihat aku tidur di kamar

“ohh ” Ujarnya spontan dia kaget karena kebiasaan kalo aku tidur tidak pernah pake baju dan hny celana dalam saja dan pagi itu sebnarnya lagi tegang biasa penyakit di pagi hari (heheheh)
seketika itu dia langsung balik melangkah dan menjauh dari kmarku
Aku coba mengintip dengan sbelah mataku oo dia sudah tidak ada “ujarku dalm hati tapi kira2 tak lama kemudian dia balik lagi dan mengendap2 mengintip kamarku smbl tersenyum penuh arti cukup lama dia perhatikan aku dan stlh itu ibu Kinah lngsung balik ke rmhnya.
Besok pagi stlah semuanya tlah tidak ada di rumhnya ibu Kinah, tinggal anaknya yg plg kecil dah tidur aku  sayup2 aku dengar di smpg rmhku yg ada di belkang, spertinya ada yg mencuci pakaian aku intip di blkang

Ohh ibu Kinah sdng mencuci pakaian namun dia hny memakai daster terusan panjang dan jilbab  krn dasternya yg panjang, maka dasternya basah sampai ke paha saat aku sdg intip ibu Kinah lgsg berdiri dan mengangkat dasternya serta merta mencopot celana dalamnya dan langsung dicuci sekalian otomatis saat itu aku melihat ooooohhh  yg merah dan pahanya yg putih di tumbuhi bulu2 halus aku langsung berputar otak2 ku ingin rasanya mencicipi yg indah dari ibu Kinah yg berjilbab ini
“Maaf ibu Kinah kemarin ibu ada perlu saya “ tanyaku  mengagetkan ibu Kinah dan semerta2 dia lngsung merapikan dasternya tersingkap smpai ke paha
Iya nih mas Wisnu Ibu kemarin mo minta tolong pasangin lampu di kmar mandi “katanya.
Kalo gitu sekarang aja bu soalnya sbentar lagi saya mo kerja “sambil mataku melihat dasternya membayangkan apa yang didalamnya. Oh iya  lewat sini saja Ujarnya karena memang tipe rmh kost yg aku tempati di belkangnya Cuma di palang kayu dan seng otomatis kegiatan tetangga2 kelihatan di belakang.

Aku lngsung membuka kayu dan sengnya dan masuk ke dalam dan ibu Kinah membawaku di depan aku mengikuti di belakang oohhh seandainya aku bisa merasakan dan pantat ini sekarang” gumamku dlm hati.

“ini lampunya dan kursinya hati2 yah jng sampe ribut soalnya anaku lg tidur”kata Ibu Kinah
Aku lngsung memasang dan ibu Kinah melanjutkan mencuci nya, setelah selesai aku lngsg blng
“ibu sdh selesai “kataku  kemudian ibu Kinah lngsung berdiri tapi saat itu dia terpeleset ke arahku seketika itu aku menangkapnya ups oh tanganku mengenai payudaranya yg montok dan tanganku satu lagi mengenai lngsung pantatnya yg tidak pake celana dalam dan hny ditutupi daster saja
”maaf Dik Wisnu agak licin lantainya”ujarnya tersipu-sipu Wisnu tunggu yah ibu bikinin Teh “ujarnya lagi Dia ke dapur dan dari belakang aku mengikutinya scr pelan2 saat teh lagi di putar di dlm gelas langsung aku memeluknya dr blkng
Wisnu apaan2 neh sentak Ibu Kinah maaf bu saya melihat ibu sangatlah cantik dan seksi ”ujarku Jangan Wisnu aku dah punya suami .

”tapi ttp ibu Kinah tdk melepaskan pegangan tanganku yang mampir di pinggangnya dan dadanya Wisnu jangaann  langsung aku menciumi dari belakang menyikapi jilbabnya sluurrp oh betapa putihnya leher ibu Kinah ‘ujarku dlm hati okhh Wisnu hmmm ibu Kinah menggeliat langsung dia membalik badannya menghadapku.

Wisnu aku udah bers saat dia mo ucapin sesuatu langsung aku cium bibirnya mmmprh tak lama dia lngsung meresponku dan lngsung memeluk leherku .
Mmmmhprpp bunyi mulutnya dan aku beradu aku singkapi jilbabnya sedikit saja sambil tanganku mencoba menggerayangi dadanya aku melihat dasternya memakai kancing 2 saja diatas dadanya aku membukanya dan tersembullah buah dadanya yg putih mulusss slurp kujilat dan isap pentilnya
Wisnu ooohhh ufhhh ”lirihnya  slurrpp slurp saa t aku jilat sepertinya msh ada sedikit air susunya hmmmm tambah nikmatnya slurp slurp
Sambil menjilat dan menyedot susunya aku tetap tidak membuka jilbab maupun dasternya tapi tanganku tetap menarik dasternya keatas karena dari tadi dia tidk pake celana dalam maka dengan gampang itilnya ku usap-usap dengan tanganku

Ohhh oh sssshhhh guma m ibu Kinah kepalaku ku dekatkan ke dan kakinya kurenggangkan sluruupp pelan2 kujilati itil dan  oh Wisnu eennakkh oghu mmmpphhff t eriaknya pelan kulihat kepalanya telah goyang ke kanan dan kekiri pelan2 sambil lidahku bermain di  kubuka celana pendekku dan terpampanglah yang telah tegang  namun ibu Kinah masih tidak menyadari akan hal itu pelan2 ku mengangkat dasternya namun tidak sampai terbuka semuanya hanya sampai di perutnya saja dan mulutku mulai beradu dengan bibirnya yang ranum mmmppghh Wisnu aku
”ujar ibu Kinah kuhisap dalam-dalam lidahnya slurp caup oh ibu sungguh indah bibirmu, dan semuanya lirihku
Sambil menjilat seluruh rongga mulutnya  kubawa ia ke atas meja makannya dan kusandarkan ibu Kinah di pinggiran meja tanganku ku mainkan kembali ke itil dan sekitaran  ahhh ufh oh Wisnull i bu udah nggak kuaatttttt lirih Ibu Kinah.

Pelan2 ku pegang  ku arahkan ke yang sudah basah dan licin dan bleeesssssssssshh ohhhhh ufgh hh Wisnu Teriak Ibu Kinah sleepep slepp  ku diamkan sebentar  Ibu Kinah sepontan melihat ke wajahku dan langsung ia menunduk lagi kududukkan di atas meja makan dan kuangkat kakinya mulailah aku memompanya

Slep slep selp be lssss oh ibu sangat enak Wisnu  juga sangat besar rupanya ibu Kinah udah tidak memikirkan lagi norma2 yang ada hanya lah nafsu birahinya yang harus dituntaskan berulang-ulang ku pompa dengan  oohh akhh Wisnu ku balikkan lagi badannya dan tangannya memegang pinggiran meja ku tusuk dari belakang bleesssssssss
Ohhhhh teriak Ibu Kinah kuhujam sekeras-kerasnya  tanganku remas2 susunya  aku liat dari belakang sangat bagus gaya ibu Kinah nungging ini, tanpa melepas daster dan jilbabnya kutusuk terus  sleeeepp sleeps

Hingga kurang lebih setengah jam ibu Kinah bilang Wisnu ibu udah nggak tahan .sabar bu bentar lagi saya juga  Ujarku Oh ohhhh ufmpghhh  Wisnu ibu mau keluarrrr achhhh  semakin kencang dan terasa menjepit dan oohhhhh ku rasakan ada semacam cairan panas yang menyirami di dalam  semakin kupercepat gerakan menusukku slep slurp bleeppp
Oh Ibu aku juga dah mo sampai neh .cepat Wisnu ibu bantu oho uhhhhh ibu Kinah menggoyangnya lagi dan akhirnya Ibu aku mo keluararrrrr .
Sama2 yang Wisnu ibu juga mo keluar lagi teriaknya dan Ohhh ack  .ahhhhh aku dan ibu Kinah sama –sama keluar dan sejenak kulihat di terlihat becek dan banjir
Setelah hening sejenak ku cabut dan kupakai celana pendek setelah itu ibu Kinah merapikan Daster dan jilbabnya langsung aku minta maaf kepadanya
Bu mohon maaf  Wisnu khilaf.’kataku. Tidak apa2 kok Wisnu ibu juga yang salah yang menggoda Wisnu “ujarnya

Aku langsung pamitan kembali ke rumahku sebelah dan mandi siap2 kerja setelah mandi kulihat ibu Kinah sedang menjemur pakaian tapi jelas didalam daster ibu Kinah tidak memakai celana dalam karena terlihat tercetak lewat sinar matahari pagi yang meninggi mulai mendekati jam 10 pagi
Sebelum aku pergi ku sempatkan pamitan ke ibu Kinah dan dia tersenyum  tidak tau apakah ada artinya atau tidak.